Nama
Kelompok Agung Putra A 10514483
Aldio
Piliang 1c514776
Anastasya 11514015
Dian Rohmah 12514999
Hazeta
Marchya 14514863
Lintang
Kusuma A 16514097
Kristina Indrayu 15514925
Monica Valencia 16514836
Surya Muhammad J 1a514530
Kelas 2PA15
A.
Mengubah Sikap Terhadap Pekerjaan
Awalnya
individu harus mengerti apa nilai pekerjaaan itu. Nilai pekerjaan seseorang
bergantung dengan bagaimana individu itu melihat pekerjaan itu sendiri. Umumnya
pekerjaan dinilai sebagai kegiatan manusia yang diarahkan untuk kemajuan
manusia, baik kemajuan rohani maupun jasmani. Pekerjaan memerlukan pemikiran
yang sadar sehingga bisa dengan bebas dapat mengarahkan kegiatannya kepada
suatu tujuan tertentu. Dan tujuan yang dicari dalam pekerjaan yaitu menjadikan
pekerja menjadi “baik”. Baik disini maksudnya adalah menjadikan pekerja lebih
terpenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya, dan mereka menghindari aktifitas
mereka yang menjadikan mereka “buruk”. Dan disini atasan juga berperan penting
dalam mengubah sikap karyawan mereka agar dapat bekerja lebih keras dan
mencapai kinerja pekerjaan yang lebih tinggi. Karyawan diusahakan supaya
menyukai pekerjaan yang ia dapatkan agar dapat menghasilkan kinerja yang baik.
Manajer dalam mengubah sikap karyawan juga harus memiliki kemampuan yang tepat,
misalnya diberi bonus jika bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Diberikan
reward dan punishment kepada karyawan tersebut, sehingga memunculkan sikap take
and give.
Ada pula
hal-hal yang dicari dalam pekerjaan adalah sebagai berikut:
Mencari
penghasilan.
Hal ini
adalah hal yang paling dasar yang mendorong seseorang untuk bekerja.
Untuk mencari nafkah (uang), untuk mencukupi kebutuhannya dan keluarga. Hal ini
juga yang biasa digunakan sebagai pertimbangan dalam memilih suatu pekerjaan.
Semakin besar gaji (uang) yang ditawarkan oleh pekerjaan tersebut, maka semakin
menarik perkerjaan itu. Banyak orang yang berpindah-pindah kerja untuk mencari
gaji yang lebih tinggi.
Pengembangan
diri
Adalah
tabiat manusia untuk ingin berkembang menjadi lebih baik. Orang bekerja karena
mereka ingin mencari pengembangan (potensi) diri mereka. Mereka akan
mencari pekerjaan dimana mereka dapat mengembangkan diri mereka disana.
Pekerjaan dengan jenjang karir bagus dimana berarti ada peluang pengembangan
diri selalu menjadi incaran. Pertimbangan yang lain adalah korelasi pekerjaan
dengan bidang keilmuan dan minat mereka.
Keseusaian ini akan mempermudah dalam pekerjaannya, dan sebagai salah satu
bentuk pengembangan diri mereka.
Mencari
teman/sarana bersosialisasi
Manusia
adalah makhluk sosial yang perlu untuk bersosialisasi. Maka manusia perlu
bekerja untuk menambah teman dan relasi mereka. Sebagai media dan tempat mereka
untuk bersosialisasi. Dalam hal ini faktor yang menjadi pertimbangan adalah
lingkungan kerja dan juga rekan kerja. Lingkungan kerja yang nyaman dan rekan
kerja yang kooperatif menjadi pertimbangan seseorang dalam memilih suatu
perkerjaan.
Mencari
kebanggaan/kehormatan diri
Hal lain
yang dicari oleh orang dengan bekerja adalah kebanggaan dan kehormatan diri.
Orang yang mencukupi kebutuhan dirinya dengan bekerja lebih terhormat
dibandingkan orang yang tergantung pada orang lain. Pada beberapa orang,
kehormatan diri juga bergantung dari jenis pekerjaan, tempat
kerja dan nama perusahaan. Ada orang yang merasa lebih terhormat dengan
bekerja sebagai pegawai kantoran. Dan ada juga orang yang bangga dengan bekerja
di perusahaan top.
Fungsi
psikologi untuk pekerjaan
Umumnya
psikologi digunakan dalam bidang HRD dalam sebuah perusahaan untuk menentukan
bagaimana seorang individu ditempatkan di sebuah bdiang pekerjaan. Juga
mengatur bagaimana prestasi seorang pekerja akan dinilai dan direward. HRD juga
bekerja di bagian manajemen SDM, mereka juga menilai motivasi kerja, kepuasan
kerja serta moral dari seorang pekerja.
B.
Proses Dalam Mencari Pekerjaan
Proses
perkembangan dalam pemilihan pekerjaan bagi individu dijelaskan oleh Donald
Super. Perkembangan pemilihan karier pekerjaan dibagi menjadi lima tahap, yaitu
:
Cristalization
Individu
berusaha mencari berbagai bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan melalui
pendidikan formal dan nonformal untuk persiapan masa depan hidupnya.
Spesification
Individu
akan meneruskan pendidikannya pada jenjang khusus yang sesuai dengan
minat-bakatnya. Masa spesifikasi ini lebih mengarah pada jalur pendidikan yang
menjurus pada taraf professional atau keahlian.
Implementation
Individu
mulai menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh pada masa
sebelumnya, secara nyata dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan bidang
keahlian atau profesi nya. Misalnya setelah ia lulus dalam pendidikan psikologi
nya ia berprofesi sebagai seorang psikolog
Stabilization
Individu
menekuni bidang profesinya sampai benar-benar ahli di bidangnya sehingga
individu dapat mencapai prestasi puncak. Taraf ini ditandai dengan prestasi
individu menduduki posisi penting, misalnya direktur perusahaan,dsb
Consolidation
Setelah
mencapai puncak karier, individu mulai memikirkan kembali sesuatu yang telah
dilakukan selama ini baik yang berhasil maupun yang gagal.
Menjelaskan fase-fase
identitas pekerjaan
Fase remaja
sangat penting untuk dilalui oleh anak-anak karena akan memengaruhi masa depan
mereka. Terutama dalam hal bagaimana anak-anak mendeskripsikan siapa diri
mereka serta bagaimana mereka bersikap terhadap lingkungan mereka di masa
depan. Jika anak-anak gagal menjalani fase remaja dengan baik, maka tugas-tugas
perkembangan mereka di fase usia selanjutnya akan rentan terganggu.
Apalagi
tugas perkembangan yang utama dilakukan dalam fase remaja adalah untuk mencari
identitas diri. Identitas diri mencakup bagaimana seorang anak melihat diri
mereka, bagaimana mereka menilai kelebihan dan kekurangannya, bagaimana mereka
menentukan bayangan sosok ideal yang mereka ingin perankan, serta bagaimana
mereka menentukan bayangan masa depan yang mereka inginkan. Ketika anak-anak
pada usia ini gagal mengetahui siapa identitas mereka, maka mereka akan
mengalami kebingungan yang akan rentan berdampak pada tugas-tugas perkembangan
mereka selanjutnya.
Proses
mencari identitas diri juga bukanlah suatu hal yang mudah. “Anak-anak harus mengeksplorasi
diri mereka di dalam lingkungan serta menghadapi tantangan lingkungan,
sementara di waktu yang bersamaan mereka juga mengalami perubahan-perubahan di
aspek fisik, kognitif, dan psikologis, yang membuat mereka harus beradaptasi,”
lanjut Pustika. Proses yang tidak mudah inilah yang membuat anak-anak kerap
terkesan “labil”.
C.
Memilih Pekerjaan yang Cocok
Untuk
memilih pekerjaan yang cocok dengan diri sendiri pertama-tama kita harus bisa
mengetahui karakteristik kita sendiri. Biasanya kita dapat mengikuti tes-tes
psikologi yang tersedia, atau umumnya saat kita mau melamar pekerjaan kita
diberikan tes psikologi yang menilai dimana seorang pekerja akan ditempatkan
nantinya ketika ia sudah diterima.
Ada pula
ketika sekolah individu dapat mencari tahu bakat dan minat dirinya dari tes-tes
psikologi yang diberikan sekolahnya dahulu. Atau bahkan kita dapat
mengobservasi diri kita sendiri, mencari bagaimana gaya belajar kita, apa minat
dan hal yang kita senangi. Dari hasil-hasil tersebut kita dapat memilih
pekerjaan yang cocok dengan karakteristik kita. Contoh-contoh karakteristik
adalah seperi berikutnya:
Orang yang
memiliki perpaduan Koleris dan Sanguin (atau sebaliknya), biasanya
memiliki kemampuan untuk memimpin karena semangat dan kepercayaan dirinya tinggi,
cocok untuk bekerja dalam posisi yang harus memimpin orang lain. Orang yang
memiliki perpaduan Sanguin dan Plegmatis (atau sebaliknya), biasanya memiliki
kemampuan dalam membina relasi dan persahabatan, dapat bekerja di bidang
konseling atau bidang pelayanan social atau bidang pelayanan lainnya. Orang
yang memiliki perpaduan Plegmatis dan Melankolis (atau sebaliknya), biasanya
punya kemampuan untuk menganalisa karena ketelitian dan kecermatannya, bisa
bekerja dalam bidang adiministrasi atau keuangan. Orang yang memiliki perpaduan
Melankolis dan Koleris (atau sebaliknya), biasanya punya semangat kerja dan
produktivitas yang sangat tinggi. Itu hanyalah beberapa contoh dari banyaknya
karakteristik yang ada untuk menemukan bidang pekerjaan yang tepat. Dengan
mengetahui karakteristik yang individu miliki, kita dapat bekerja dengan
efektif dan produktif karena adanya ketepatan dengan karakteristik yang kita
miliki.
D.
Penyesuaian Diri dalam Pekerjaan
Dari segi pandangan psikologi, penyesuaian diri
memiliki banyak arti seperti pemuasan kebutuhan, ketrampilan dalam menangani
frustasi atau konflik, ketenangan pikiran atau jiwa, atau bahkan pembentukan
simtonsimton. (Yustinus Semiun, 2006:36).
Penyesuaian diri adalah cara individu atau khusus
organisasi dalam bereaksi terhadap tuntutan-tuntutan dari dalam atau
situasi-situasi dari luar (Yustinus Semiun, 2006:37). Menurut Musthafa Fahmy,
(1982:14), penyesuaian diri dalam lingkungan kerja adalah proses dinamika yang
bertujuan untuk mengubah perilaku hidup agar terjadi hubungan yang lebih sesuai
antara dirinya dan lingkungan kerja. Berdasarkan pengertian tersebut dapatlah
kita memberikan batasan kepada fakta tersebut dengan kemampuan untuk membuat
hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dan lingkungannya.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
penyesuaian diri dalam lingkungan kerja adalah suatu cara individu dalam
bereaksi terhadap tuntutan atau situasi dari dalam maupun dari luar agar lebih
sesuai dengan dirinya dan lingkungan kerja. Penyesuaian diri adalah relatif
karena tidak ada orang yang dapat menyesuaikan diri secara sempurna.
Penyesuaian diri itu harus dinilai berdasarkan kapasitas individu untuk
mengubah dan menanggulangi tuntutan yang dihadapi dan kapasitas ini
berbeda-beda menurut kepribadian dan tingkat perkembangan.
Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik adalah
orang yang memiliki respon-respon yang matang, efisien, memuaskan, dan sehat.
Sebaliknya, orang yang neurotik adalah orang yang sangat tidak efisienefisien
dan tidak pernah menangani tugas-tugas secara lengkap (Yustinus Semiun,
2006:37).
Singkatnya, meskipun memiliki kekurangan-kekurangan
kepribadian, orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik dapat bereaksi
secara efektif terhadap situasi-situasi yang berbeda, dapat memecahkan
konflikkonflik, frustasi-frustasi dan masalah-masalah tanpa menggunakan tingkah
laku simtomatik.
Kriteria penyesuaian diri yang baik adalah
pengendalian diri sendiri yang berarti orang mengatur implus-implus,
pikiran-pikiran, kebiasaankebiasaan, emosi-emosi dan tingkah laku berkaitan dengan
prinsip-prinsip yang dikenakan pada diri sendiri atau tuntutan-tuntutan yang
dikenakan oleh masyarakat (Yustinus Semiun, 2006:42).
Penyesuaian diri yang baik juga mengandung suatu tingkat pengusaan, yaitu
kemampuan untuk merencanakan dan mengatur respon-respon pribadi sedemikian rupa
sehingga konflik-konflik, kesulitan-kesulitan, dan frustasi-frustasi akan
hilang dengan munculnya tingkah laku yang efisien atau yang menguasai. Istilah
tersebut meliputi menguasai diri sendiri sehingga dorongan-dorongan, emosi–emosi,
dan kebiasaan–kebiasaan dapat dikendalikan, juga berarti menguasai lingkungan
yaitu kemampuan untuk menangani kenyataan secara sehat dan adekuat dan
menggunakan lingkungan orang-orang dan peristiwa-peristiwa dalam cara yang
menyebabkan individu dapat menyesuaiakan diri. Seperti dikatakan oleh seorang
penulis, apabila kebutuhan untuk menguasai adalah sama sekali atau untuk
sebagian terbesar gagal dalam jangka waktu yang lama, maka individu pasti tidak
dapat menyesuaiakan diri. (Yustinus Semiun, 2006:35-36).
E.
. Waktu Luang
Bagaimana menggunakan waktu secara positif?
Waktu adalah satu-satunya modal yang dimiliki oleh
manusia, dan ia tidak boleh sampai kehilangan waktu. – Thomas A. Edison
Meluangkan
waktu itu ternyata penting dan banyak cara/kegiatan positif yang bisa dilakukan
untuk mengisi waktu luang. Misalnya olahraga, jalan-jalan, melakukan hobby,
atau ngeblog. Selain itu, mengisi waktu luang setelah kesibukan yang mendera
ibarat bayaran dari pekerjaan itu sendiri. Kita tidak pernah menduga kalau
kegiatan yang dilakukan di saat waktu luang bisa juga menghasilkan atau
mendapat penghargaan. Siapa yang tahu kalau suatu saat nanti, kegiatan yang
dilakukan di waktu luang, bisa menjadi penghasilan terbesar. Dan bagaimana kita
bisa punya waktu luang di sela-sela kesibukan dengan mengaturnya sebaik
mungkin? Berikut ini tips dan triknya:
·
Jangan
pernah terjebak dgn waktu. Bukan waktu yg mengatur kita, tapi kitalah yang
mengatur waktu.
·
Coba sesuatu
yang baru yang tidak menyita waktu kerja. Misalnya dengan menulis di smartphone
yang kita miliki
·
Tentukan
prioritas. Dengan prioritas bisa diketahui mana yang mendesak, mana yang
kurang. Tanpa prioritas, waktu terbuang percuma.
·
Buat yang
super sibuk, buatlah agenda yang harus ditaati. Masukkan waktu bekerja, waktu
untuk keluarga, dan waktu untuk diri sendiri.
·
Pastikan
dalam agenda, 50 persen waktu yang dilakukan adalah untuk kegiatan positif atau
produktif.
·
Jangan
melakukan pekerjaan/hal yang lain sebelum menuntaskan pekerjaan yang lebih dulu
dilakukan. Yang ada keduanya berantakan!
·
Jika tidak
berhubungan dgn pekerjaan, jauhkan diri dari sosial media, hingga pekerjaan
tuntas diselesaikan.
Menggunakan waktu dengan bijak, maka
tidak ada istilah tidak punya waktu luang! Tidak ada waktu yang terbuang
percuma. Kuncinya terletak bukan pada
bagaimana Anda menghabiskan waktu, namun dalam menginvestasikan waktu Anda.
Melakukan dua hal bersamaan sama artinya dengan tidak melakukan sesuatu. -
Stephen R. Covey. Jika merasa jenuh dengan waktu yang telah dihabiskan,
ubah kebiasaan itu. Manfaatkanlah waktu lua
Self-Directed Changes
Konsep dan Penerapan Self Directed Changes
Self Directed Changes adalah langkah-langkah dalam elemen dasar untuk
meningkatkan kompetensi orang dewasa. Artinya teori ini menjelaskan bagaimana
seseorang mengubah dirinya kearah yang lebih baik
Dalam teori ini, seseorang akan mendapat dorongan untuk berubah ketika ia
berada dalam kodisi seperti ini:
- Individu
merasa tidak puas terhadap kondisi aktual dirinya saat ini (actual)
- Tetapi
individu memiliki gambaran yang jelas tentang kondisi ideal yang ingin
dicapai (ideal)
- Individu
mempunyai gambaran jelas tentang apa yang harus dilakukan agar dapat
mencapai kondisi ideal yang berawal dari kondisi actual (action step)
Artinya individu harus merasa tidak puas terhadap kondisinya dan mempunyai
keinginan untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Tapi hal yang paling penting
adalah individu harus tahu langkah-langkah yang harus individu jalani agar
dapat mencapai kondisi yang ingin dia capai. Artinya individu harus dapat mengenal
dirinya dengan baik, juga mengerti seluk beluk tujuan yang ingin digapainya.
Self Directed Change mempunyai tahapan terapan sebagai berikut:
- Meningkatkan
Kontrol Diri:
Definisi kontrol diri atau self control adalah kemampuan individu untuk
mengarahkan tingkah lakunya sendiri dan kemampuan untuk menekan atau menghambat
dorongan yang ada. Goldfried dan Merbaum, mendefinisikan kontrol diri sebagai
suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk
perilaku yang dapat membawa individu kearah konsekuensi positif. Artinya
individu harus dapat bisa meningkatkan kontrol diri agar dapat menuju
konsenkuensi positif yang didalam ini adalah kondisi actual step.
- Menetapkan
Tujuan
Tujuan sangat penting untuk menambah motivasi untuk berubah, dengan adanya
tujuan kita dapat mengetahui langkah-langkah yang harus disusun untuk menuju
tujuan tersebut, tapi yang terpenting kita harus mempunyai tujuan terlebih
dahulu. Tujuan terbersar bisa didukung juga dengan target-target kecil yang
sebenarnya mendukung untuk menuju tujuan terbesar.
- Pencatatan
Perilaku
Begitu tujuan sudah ditetapkan hal berikutnya adalah menyusun langkahnya.
Langkah awal adalah pencatatan perilaku. Di sini perilaku yang baik dan buruk
perlu dicatatat. Perilaku buruk yang dicatatat adalah perilaku yang perlu
dirubah untuk mencapai kondisi ideal. Sedangkan perilaku yang baik juga perlu
dicatatat agar dapat mengetahui apakah dalam diri individu terdapat perilaku
yang mendukung untuk menuju kondisi ideal, bila ada perilaku itu perlu
dipertahankan.
- Menyaring
Anteseden Perilaku
Individu harus menuliskan perilaku yang ingin dirubah, dari sana individu
akan dapat melihat konsenkuensi dan kerugian yang ada. Dari sini dapat menuju
tahap berikutnya
- Menyusun
Konsenkuensi yang Efektif
Setelah kita sudah memulai mengontrol beberapa kondisi yang memicu perilaku
atau kebiasaan kita. Meningkatkan pengendalian diri, maka terdiri dari mengatur
konsekuensi dari perilaku kita sehingga orang lain menerima perilaku yang kita
yang sudah berubah. Perlu diingat juga saat kita merubah perilaku banyak
konsekuensi yang harus dipikirkan, konsenkuensi terhadap diri sendiri maupun
orang lain.
- Menerapkan
Rencana Intervensi
Ketika kita sudah menyusun hal-hal diatas, artinya selanjutnya adalah
merancang tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk melakukan perubahan. Apa
saja yang harus dibuat, dan kondisi apa saja yang harus dibuat untuk melakukan
tahapan-tahapan perubahan perilaku. Kemudian jalankan semuanya.
- Evaluasi
Selanjutnya individu harus sering melihat dirinya, maksudnya mengevaluasi
apakah sudah terjadi perubahan, atau individu tetap sesuai di rencana yang ia
susun, apakah target-target yang disususun sudah mulai tercapai samapai ke
tujuan terbesarnya.
Itulah tujuh tahap Self Directed Changes.
Sumber:
Spencer,M.Lyle and Spencer,M.Signe, 1993,
Competence at Work:Models for
Superrior Performance, John Wily & Son,Inc,New York,USA
Dayakisni, Tri & Hudaniah (2003).
Psikologi Sosial. UMM
Press. Malang
Gibbons, Maurice. (2002).
The Self Directed Learning Handbook
Challenging Adolescent Student to Exel. San Fransisco: Jhon Wiley &
Sons, Inc.
Atwater, E.,
1983, Psychology of Adjustment, Personal Growth in a Changing Worls, 2nd
Ed., Prentice Hall, New Jersey
Schultz, D.,
1983, Psikologi Pertumbuhan, Model-Model kepribadian yang Sehat,
Kanisius, Yogyakarta