Monday, 24 October 2016

tugas 2 psikologi manajemen

 TUGAS 2 PSIKOLOGI OLEH :
  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNji8nLpb961x8BT4mwBUPs8K5fiYbTMY07LWGl8S6-Dule24hShOHDfx2IFe6yMMuMzluqhGUXtw0eQJi84-VB03TskiVciHAJB4Z703qVYKvSEpxy0BD4wADOLJa3Fsj9r4g1lDb-LU/s320/IMG_20161024_200631.jpg






KELOMPOK 1
KELAS 3PA15
Nama Kelompok :
-          Arum Fajar Ing Tyas              (11514692)
-          Fahdiah Auditawati               (13414771)
-          Indrian Fadillah                     (15514329)
-          Kartika Nindya DH                (15514786)
-          Monica Valencia                    (16514836)
-          Olivia Cesarria                       (18514343)
-          Rimon GH Siburian               (18511729)











Fungsi perencanaan
Nama perusahaan (konsep) : perusahaan makanan (luch box atau bento)
Tujuan perusahaan :
Memperoleh laba penghasilan
Mempermudah karyawan dengan kesibukan tinggi memperoleh makan siang yang sehat dan bervariasi
Menyediakan makanan sehat .
System :
Sitem pemesanan dengan cara online dan offline
Oline : melalui media social atau web
Offline : melalui outlet yang sudah tersedia
Dibuat system langganan ata member
Setiap hari pelanggan dapat memasan menu paket yang sdah di siapkan minimal 1 hari sebelum hari H
Makan siang pelanggan akan di antarkan oleh driver
Indicator keberhasilan
Keuntungan 30-50% dari modal
Pelanggan sama dengan atau lebih dari 100 orang di setiap cabang kota yang di buka

Fungsi pengorganisasian
Sumber daya yang di butuhkan
Sumber daya manusia
Sebagai sumber daya terpeting yan dibutuhkan di perusahaan , karena sumber daya manusia berfungsi menjalankan seluruh fungsi kegiatan perusahaan , mulai dari juru masak, driver, admin hingga tim manajemen.
Sumber daya modal
Sumber daya modal merupakan sumber daya dasar guna bisa berjalan lancarnya kegitan perusahaan.
Sumber daya material
Sumber daya material sebagai sarana atau fasilitas yang menunjang kegiatan perusahaan. Mencakup, tempat usaha, perlengkapan dan peralatan dan bahan baku.


Struktur organisasi
Owner : 7 orang
Berfungsi sebagai pemilik, pengawas dan pemilik  modal perusahaan .
Manager : 1 orang tiap kantor cabang
Berfungsi mengawasi segala hal yang berjalan diperusahaan , mulai dari system hingga pengawasan bahan baku.
Staff :
Staff juru masak
Jumlah : 4 orang per kantor cabang
Bertugas , menyiapkan makanan yang akan di distribusikan ke pelenggan dan bertanggung jawab atas ketersediaan bahan baku.
Staff admin :
Berjumlah 3 orang tiap kantor cabang
Bertanggung jawab atas pemesanan order daripelanggan baik secar offline atau online.
Staff driver
Berjumlah 5 orang per kantor cabang
Bertugas mendistribusikan pesanan kepada pelanggan atau pemesan lunchbox.
Proses seleksi dan rekrutmen






Kriteria :
Pendidikan minimal SMA/sederajat
Usia :
Minimal 18 tahun maksimal 25 tahun
Juru masak : maksimal 55 tahun
Berpengalaman minimal satu tahun di bidangnya
Admin menguasi ms.office  & media social
Driver memiliki sim C
Fungsi pengarahan dan implementasi
Briefing sebelum buka
Evaluasi setiap hari
Membuat statistic pendapatan/bulan.
Fungsi pengawasan dan pengendalian
Adanya penilian kinerja karyawan setiap akhir tahun
Quality control bahan makanan tiap hari
Dibuat SOP (standart operational) untuk setiap bidang di dalam perusahaaan.
Cek kendaraan untuk driver tiap bulan
Evaluasi keberhasilan target penjualan tiap akhir bulan.


Sunday, 9 October 2016

Psikologi Manajemen

EMPOWERMENT


Nama Kelompok :
-          Arum Fajar Ing Tyas               (11514692)
-          Fahdiah Auditawati                (13414771)
-          Indrian Fadillah                      (15514329)
-          Kartika Nindya DH                (15514786)
-          Monica Valencia                     (16514836)
-          Olivia Cesarria                        (18514343)
-          Rimon GH Siburian                (18511729)
Kelas               : 3 PA 15




UNIVERSITAS GUNADARMA
PSIKOLOGI
2016


1.      Definisi Empowerment
Empowerment, merupakan istilah yang cukup populer dalam bidang manajemen khususnya manajemen Sumber Daya Manusia. Banyak penafsiran tentang empowerment. Dan salah satu penafsiran yang dikenal oleh sebagian besar dari kita adalah empowerment sebagai pendelegasian wewenang dari atasan kepada bawahan. Apakah benar demikian? Marilah kita lihat pengertian yang benar tentang empowerment.

Definisi
Richard Carver, Managing Director dari Coverdale Organization mendefinisikan empowerment sebagai mendorong dan membolehkan seseorang untuk mengambil tanggung jawab secara pribadi untuk meningkatkan atau memperbaiki cara-cara menyelesaikan pekerjaan sehingga dapat meningkatkan kontribusi dalam pencapaian sasaran organisasi. Empowerment memerlukan penciptaan budaya yang mendorong pegawai dalam setiap tingkatan untuk melakukan sesuatu yang berbeda dan membantu pegawai untuk percaya diri dan kemampuan untuk melakukan perubahan.
Selain pengertian yang telah disampaikan oleh Richard Carver, ada beberapa pengertian atau pemahaman lain tentang empowerment. Namun semua definisi yang ada secara prinsip memiliki kesamaan yaitu bahwa empowerment mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
a.       Adanya pelimpahan kewenangan dan tanggung jawab untuk membuat keputusan yang didukung oleh sumber daya yang memadai.
b.      Adanya kontrol atas pelimpahan kewenangan dari manajemen.
c.       Adanya penciptaan lingkungan agar pegawai dapat memanfaatkan kemampuan atau kompetensinya secara maksimum untuk mencapai sasaran organisasi
Empowerment yang juga diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti pemberdayaan adalah sebuah konsep yang lahir sebagai bagian dari perkembangan alam pikiran masyarakat dan kebudayaan barat utamanya Eropa. Untuk memahami konsep empowerment secara tepat dan jernih memerlukan upaya pemahaman latar belakang kontekstual yang melahirkannya.
Secara konseptual pemberdayaan atau pemberkuasaan (empowerment) berasal dari kata power (kekuasaan atau keberdayaaan), karena ide utama pemberdayaan bersentuhan dengan konsep mengenai kekuasaan. Kekuasaan seringkali dikaitkan dengan kemampuan kita untuk membuat orang lain melakukan apa yang kita inginkan, terlepas dari keinginan dan niat mereka. Ilmu sosial tradisional menekankan bahwa kekuasaan berkaitan dengan pengaruh dan kontrol.
Pengertian ini mengasumsikan bahwa kekuasaan sebagai suatu yang tidak berubah atau tidak dapat dirubah.Kekuasaan senantiasa tercipta dan hadir dalam konteks relasi sosial antar manusia. Karena itu kekuasaan dan hubungan kekuasaan dapat berubah. Dengan pemahaman kekuasaan seperti itu, pemberdayaan  sebagai sebuah proses perubahan kemudian memiliki konsep yang bermakna.
Inilah Beberapa Definisi Pemberdayaan Masyarakat Menurut Para Ahli
a.       Pemberdayaan menurut Suhendra (2006:74-75) adalah “suatu kegiatan yang berkesinambungan, dinamis, secara sinergis mendorong keterlibatan semua potensi yang ada secara evolutif dengan keterlibatan semua potensi”.
b.      Selanjutnya pemberdayaan menurut Ife (dalam Suhendra, 2006:77) adalah “meningkatkan kekuasaan atas mereka yang kurang beruntung (empowerment aims to increase the power of disadvantage)”.
c.       Sedangkan menurut Widjaja (2003:169) pemberdayaan masyarakat adalah upaya meningkatkan kemampuan dan potensi yang dimiliki masyarakat, sehingga masyarakat dapat mewujudkan jati diri, harkat dan martabatnya secara maksimal untuk bertahan dan mengembangkan diri secara mandiri baik di bidang ekonomi, sosial, agama dan budaya.

2.      Kunci Efektif Empowermen
Empowerment memerlukan individu bertanggungjawab dalam menyiapkan keseluruhan tugas. Pekerja bertanggungjawab sepenuhnya dan accountable kepada tugasan atau kuasa yang telah diserahkan kepadanya. Dalam perkataan lain, empowerment menjurus kepada perluasan bidang kerja terutama dari sudut interaksi dan kebergantungan dengan pihak lain dalam organisasi (Besterfield, D.H, 2003).
Kunci Efektif Empowermen dalam Manajemen
Konsep pemberdayaan (empowerment), menurut Friedmann muncul karena adanya dua primise mayor, yaitu “kegagalan” dan “harapan”. Kegagalan yang dimaksud adalah gagalnya model pembangunan ekonomi dalam menanggulangi masalah kemiskinan dan lingkungan yang berkelanjutan, sedangkan harapan muncul karena adanya alternatif-alternatif pembangunan yang memasukkan nilai-nilai demokrasi, persamaan gender, peran antara generasi dan pertumbuhan ekonomi yang memadai. Dengan dasar pandangan demikian, maka pemberdayaan masyarakat erat kaitannya dengan peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan pada masyarakat, sehingga pemberdayaan masyarakat amat erat kaitannya dengan pemantapan, pembudayaan dan pengamalan demokrasi.
Selanjutnya Friedmann dalam Prijono dan Pranaka (1996) menyatakan bahwa kekuatan aspek sosial ekonomi masyarakat menjadi akses terhadap dasar-dasar produksi tertentu suatu rumah tangga yaitu informasi, pengetahuan dan ketrampilan, partisipasi dalam organisasi dan sumber-sumber keuangan, ada korelasi yang positif, bila ekonomi rumah tangga tersebut meningkatk aksesnya pada dasar-dasar produksi maka akan meningkat pula tujuan yang dicapai peningkatan akses rumah tangga terhadap dasar-dasar kekayaan produktif mereka.

Sumber
bina potensia Indonesia. www.binapotensiaindonesia.com. Diakses pada jam 08.59 hari jum’at 7 oktober 2016.
http://www.materibelajar.id/2015/12/inilah-beberapa-definisi-pemberdayaan.html

Monday, 13 June 2016

Pekerjaan dan Waktu Luang



Nama Kelompok  Agung Putra A             10514483
Aldio Piliang                 1c514776
Anastasya                     11514015
Dian Rohmah               12514999
Hazeta Marchya           14514863
Lintang Kusuma A      16514097
                               Kristina Indrayu          15514925
                               Monica Valencia           16514836
                               Surya Muhammad J    1a514530
Kelas                    2PA15
 


A.    Mengubah Sikap Terhadap Pekerjaan
Awalnya individu harus mengerti apa nilai pekerjaaan itu. Nilai pekerjaan seseorang bergantung dengan bagaimana individu itu melihat pekerjaan itu sendiri. Umumnya pekerjaan dinilai sebagai kegiatan manusia yang diarahkan untuk kemajuan manusia, baik kemajuan rohani maupun jasmani. Pekerjaan memerlukan pemikiran yang sadar sehingga bisa dengan bebas dapat mengarahkan kegiatannya kepada suatu tujuan tertentu. Dan tujuan yang dicari dalam pekerjaan yaitu menjadikan pekerja menjadi “baik”. Baik disini maksudnya adalah menjadikan pekerja lebih terpenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya, dan mereka menghindari aktifitas mereka yang menjadikan mereka “buruk”. Dan disini atasan juga berperan penting dalam mengubah sikap karyawan mereka agar dapat bekerja lebih keras dan mencapai kinerja pekerjaan yang lebih tinggi. Karyawan diusahakan supaya menyukai pekerjaan yang ia dapatkan agar dapat menghasilkan kinerja yang baik. Manajer dalam mengubah sikap karyawan juga harus memiliki kemampuan yang tepat, misalnya diberi bonus jika bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Diberikan reward dan punishment kepada karyawan tersebut, sehingga memunculkan sikap take and give.
Ada pula hal-hal yang dicari dalam pekerjaan adalah sebagai berikut:
Mencari penghasilan.
Hal ini adalah hal yang paling dasar yang mendorong seseorang untuk bekerja.  Untuk mencari nafkah (uang), untuk mencukupi kebutuhannya dan keluarga. Hal ini juga yang biasa digunakan sebagai pertimbangan dalam memilih suatu pekerjaan. Semakin besar gaji (uang) yang ditawarkan oleh pekerjaan tersebut, maka semakin menarik perkerjaan itu. Banyak orang yang berpindah-pindah kerja untuk mencari gaji yang lebih tinggi.
Pengembangan diri
Adalah tabiat manusia untuk ingin berkembang menjadi lebih baik. Orang bekerja karena mereka ingin mencari pengembangan (potensi) diri mereka. Mereka akan  mencari pekerjaan dimana mereka dapat mengembangkan diri mereka disana. Pekerjaan dengan jenjang karir bagus dimana berarti ada peluang pengembangan diri selalu menjadi incaran. Pertimbangan yang lain adalah korelasi pekerjaan dengan bidang keilmuan dan minat mereka.
Keseusaian ini akan mempermudah dalam pekerjaannya, dan sebagai salah satu bentuk pengembangan diri mereka.
Mencari teman/sarana bersosialisasi
Manusia adalah makhluk sosial yang perlu untuk bersosialisasi. Maka manusia perlu bekerja untuk menambah teman dan relasi mereka. Sebagai media dan tempat mereka untuk bersosialisasi. Dalam hal ini faktor yang menjadi pertimbangan adalah lingkungan kerja dan juga rekan kerja. Lingkungan kerja yang nyaman dan rekan kerja yang kooperatif menjadi pertimbangan seseorang dalam memilih suatu perkerjaan.
Mencari kebanggaan/kehormatan diri
Hal lain yang dicari oleh orang dengan bekerja adalah kebanggaan dan kehormatan diri. Orang yang mencukupi kebutuhan dirinya dengan bekerja lebih terhormat dibandingkan orang yang tergantung pada orang lain. Pada beberapa orang, kehormatan diri juga bergantung  dari  jenis pekerjaan, tempat kerja  dan nama perusahaan. Ada orang yang merasa lebih terhormat dengan bekerja sebagai pegawai kantoran. Dan ada juga orang yang bangga dengan bekerja di perusahaan top.
Fungsi psikologi untuk pekerjaan
Umumnya psikologi digunakan dalam bidang HRD dalam sebuah perusahaan untuk menentukan bagaimana seorang individu ditempatkan di sebuah bdiang pekerjaan. Juga mengatur bagaimana prestasi seorang pekerja akan dinilai dan direward. HRD juga bekerja di bagian manajemen SDM, mereka juga menilai motivasi kerja, kepuasan kerja serta moral dari seorang pekerja.
B.     Proses Dalam Mencari Pekerjaan
Proses perkembangan dalam pemilihan pekerjaan bagi individu dijelaskan oleh Donald Super. Perkembangan pemilihan karier pekerjaan dibagi menjadi lima tahap, yaitu :
Cristalization
Individu berusaha mencari berbagai bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan formal dan nonformal untuk persiapan masa depan hidupnya.
Spesification
Individu akan meneruskan pendidikannya pada jenjang khusus yang sesuai dengan minat-bakatnya. Masa spesifikasi ini lebih mengarah pada jalur pendidikan yang menjurus pada taraf professional atau keahlian.
Implementation
Individu mulai menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh pada masa sebelumnya, secara nyata dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan bidang keahlian atau profesi nya. Misalnya setelah ia lulus dalam pendidikan psikologi nya ia berprofesi sebagai seorang psikolog
Stabilization
Individu menekuni bidang profesinya sampai benar-benar ahli di bidangnya sehingga individu dapat mencapai prestasi puncak. Taraf ini ditandai dengan prestasi individu menduduki posisi penting, misalnya direktur perusahaan,dsb
Consolidation
Setelah mencapai puncak karier, individu mulai memikirkan kembali sesuatu yang telah dilakukan selama ini baik yang berhasil maupun yang gagal.
Menjelaskan  fase-fase identitas pekerjaan
Fase remaja sangat penting untuk dilalui oleh anak-anak karena akan memengaruhi masa depan mereka. Terutama dalam hal bagaimana anak-anak mendeskripsikan siapa diri mereka serta bagaimana mereka bersikap terhadap lingkungan mereka di masa depan. Jika anak-anak gagal menjalani fase remaja dengan baik, maka tugas-tugas perkembangan mereka di fase usia selanjutnya akan rentan terganggu.
Apalagi tugas perkembangan yang utama dilakukan dalam fase remaja adalah untuk mencari identitas diri. Identitas diri mencakup bagaimana seorang anak melihat diri mereka, bagaimana mereka menilai kelebihan dan kekurangannya, bagaimana mereka menentukan bayangan sosok ideal yang mereka ingin perankan, serta bagaimana mereka menentukan bayangan masa depan yang mereka inginkan. Ketika anak-anak pada usia ini gagal mengetahui siapa identitas mereka, maka mereka akan mengalami kebingungan yang akan rentan berdampak pada tugas-tugas perkembangan mereka selanjutnya.
Proses mencari identitas diri juga bukanlah suatu hal yang mudah. “Anak-anak harus mengeksplorasi diri mereka di dalam lingkungan serta menghadapi tantangan lingkungan, sementara di waktu yang bersamaan mereka juga mengalami perubahan-perubahan di aspek fisik, kognitif, dan psikologis, yang membuat mereka harus beradaptasi,” lanjut Pustika. Proses yang tidak mudah inilah yang membuat anak-anak kerap terkesan “labil”.

C.    Memilih Pekerjaan yang Cocok
Untuk memilih pekerjaan yang cocok dengan diri sendiri pertama-tama kita harus bisa mengetahui karakteristik kita sendiri. Biasanya kita dapat mengikuti tes-tes psikologi yang tersedia, atau umumnya saat kita mau melamar pekerjaan kita diberikan tes psikologi yang menilai dimana seorang pekerja akan ditempatkan nantinya ketika ia sudah diterima.
Ada pula ketika sekolah individu dapat mencari tahu bakat dan minat dirinya dari tes-tes psikologi yang diberikan sekolahnya dahulu. Atau bahkan kita dapat mengobservasi diri kita sendiri, mencari bagaimana gaya belajar kita, apa minat dan hal yang kita senangi. Dari hasil-hasil tersebut kita dapat memilih pekerjaan yang cocok dengan karakteristik kita. Contoh-contoh karakteristik adalah seperi berikutnya:
Orang yang memiliki perpaduan Koleris dan Sanguin (atau sebaliknya), biasanya memiliki kemampuan untuk memimpin karena semangat dan kepercayaan dirinya tinggi, cocok untuk bekerja dalam posisi yang harus memimpin orang lain. Orang yang memiliki perpaduan Sanguin dan Plegmatis (atau sebaliknya), biasanya memiliki kemampuan dalam membina relasi dan persahabatan, dapat bekerja di bidang konseling atau bidang pelayanan social atau bidang pelayanan lainnya. Orang yang memiliki perpaduan Plegmatis dan Melankolis (atau sebaliknya), biasanya punya kemampuan untuk menganalisa karena ketelitian dan kecermatannya, bisa bekerja dalam bidang adiministrasi atau keuangan. Orang yang memiliki perpaduan Melankolis dan Koleris (atau sebaliknya), biasanya punya semangat kerja dan produktivitas yang sangat tinggi. Itu hanyalah beberapa contoh dari banyaknya karakteristik yang ada untuk menemukan bidang pekerjaan yang tepat. Dengan mengetahui karakteristik yang individu miliki, kita dapat bekerja dengan efektif dan produktif karena adanya ketepatan dengan karakteristik yang kita miliki.

D.    Penyesuaian Diri dalam Pekerjaan
Dari segi pandangan psikologi, penyesuaian diri memiliki banyak arti seperti pemuasan kebutuhan, ketrampilan dalam menangani frustasi atau konflik, ketenangan pikiran atau jiwa, atau bahkan pembentukan simtonsimton. (Yustinus Semiun, 2006:36).
Penyesuaian diri adalah cara individu atau khusus organisasi dalam bereaksi terhadap tuntutan-tuntutan dari dalam atau situasi-situasi dari luar (Yustinus Semiun, 2006:37). Menurut Musthafa Fahmy, (1982:14), penyesuaian diri dalam lingkungan kerja adalah proses dinamika yang bertujuan untuk mengubah perilaku hidup agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara dirinya dan lingkungan kerja. Berdasarkan pengertian tersebut dapatlah kita memberikan batasan kepada fakta tersebut dengan kemampuan untuk membuat hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dan lingkungannya.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri dalam lingkungan kerja adalah suatu cara individu dalam bereaksi terhadap tuntutan atau situasi dari dalam maupun dari luar agar lebih sesuai dengan dirinya dan lingkungan kerja. Penyesuaian diri adalah relatif karena tidak ada orang yang dapat menyesuaikan diri secara sempurna. Penyesuaian diri itu harus dinilai berdasarkan kapasitas individu untuk mengubah dan menanggulangi tuntutan yang dihadapi dan kapasitas ini berbeda-beda menurut kepribadian dan tingkat perkembangan.
Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik adalah orang yang memiliki respon-respon yang matang, efisien, memuaskan, dan sehat. Sebaliknya, orang yang neurotik adalah orang yang sangat tidak efisienefisien dan tidak pernah menangani tugas-tugas secara lengkap (Yustinus Semiun, 2006:37).
Singkatnya, meskipun memiliki kekurangan-kekurangan kepribadian, orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik dapat bereaksi secara efektif terhadap situasi-situasi yang berbeda, dapat memecahkan konflikkonflik, frustasi-frustasi dan masalah-masalah tanpa menggunakan tingkah laku simtomatik.
Kriteria penyesuaian diri yang baik adalah pengendalian diri sendiri yang berarti orang mengatur implus-implus, pikiran-pikiran, kebiasaankebiasaan, emosi-emosi dan tingkah laku berkaitan dengan prinsip-prinsip yang dikenakan pada diri sendiri atau tuntutan-tuntutan yang dikenakan oleh masyarakat (Yustinus Semiun, 2006:42).
Penyesuaian diri yang baik juga mengandung suatu tingkat pengusaan, yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengatur respon-respon pribadi sedemikian rupa sehingga konflik-konflik, kesulitan-kesulitan, dan frustasi-frustasi akan hilang dengan munculnya tingkah laku yang efisien atau yang menguasai. Istilah tersebut meliputi menguasai diri sendiri sehingga dorongan-dorongan, emosi–emosi, dan kebiasaan–kebiasaan dapat dikendalikan, juga berarti menguasai lingkungan yaitu kemampuan untuk menangani kenyataan secara sehat dan adekuat dan menggunakan lingkungan orang-orang dan peristiwa-peristiwa dalam cara yang menyebabkan individu dapat menyesuaiakan diri. Seperti dikatakan oleh seorang penulis, apabila kebutuhan untuk menguasai adalah sama sekali atau untuk sebagian terbesar gagal dalam jangka waktu yang lama, maka individu pasti tidak dapat menyesuaiakan diri. (Yustinus Semiun, 2006:35-36).






E.     . Waktu Luang
Bagaimana menggunakan waktu secara positif?
Waktu adalah satu-satunya modal yang dimiliki oleh manusia, dan ia tidak boleh sampai kehilangan waktu. – Thomas A. Edison
Meluangkan waktu itu ternyata penting dan banyak cara/kegiatan positif yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang. Misalnya olahraga, jalan-jalan, melakukan hobby, atau ngeblog. Selain itu, mengisi waktu luang setelah kesibukan yang mendera ibarat bayaran dari pekerjaan itu sendiri. Kita tidak pernah menduga kalau kegiatan yang dilakukan di saat waktu luang bisa juga menghasilkan atau mendapat penghargaan. Siapa yang tahu kalau suatu saat nanti, kegiatan yang dilakukan di waktu luang, bisa menjadi penghasilan terbesar. Dan bagaimana kita bisa punya waktu luang di sela-sela kesibukan dengan mengaturnya sebaik mungkin? Berikut ini tips dan triknya:
·         Jangan pernah terjebak dgn waktu. Bukan waktu yg mengatur kita, tapi kitalah yang mengatur waktu.
·         Coba sesuatu yang baru yang tidak menyita waktu kerja. Misalnya dengan menulis di smartphone yang kita miliki
·         Tentukan prioritas. Dengan prioritas bisa diketahui mana yang mendesak, mana yang kurang. Tanpa prioritas, waktu terbuang percuma.
·         Buat yang super sibuk, buatlah agenda yang harus ditaati. Masukkan waktu bekerja, waktu untuk keluarga, dan waktu untuk diri sendiri.
·         Pastikan dalam agenda, 50 persen waktu yang dilakukan adalah untuk kegiatan positif atau produktif.
·         Jangan melakukan pekerjaan/hal yang lain sebelum menuntaskan pekerjaan yang lebih dulu dilakukan. Yang ada keduanya berantakan!
·         Jika tidak berhubungan dgn pekerjaan, jauhkan diri dari sosial media, hingga pekerjaan tuntas diselesaikan.

Menggunakan waktu dengan bijak, maka tidak ada istilah tidak punya waktu luang! Tidak ada waktu yang terbuang percuma. Kuncinya terletak bukan pada bagaimana Anda menghabiskan waktu, namun dalam menginvestasikan waktu Anda. Melakukan dua hal bersamaan sama artinya dengan tidak melakukan sesuatu. - Stephen R. Covey. Jika merasa jenuh dengan waktu yang telah dihabiskan, ubah kebiasaan itu. Manfaatkanlah waktu lua

Self-Directed Changes

Konsep dan Penerapan Self Directed Changes
Self Directed Changes adalah langkah-langkah dalam elemen dasar untuk meningkatkan kompetensi orang dewasa. Artinya teori ini menjelaskan bagaimana seseorang mengubah dirinya kearah yang lebih baik
Dalam teori ini, seseorang akan mendapat dorongan untuk berubah ketika ia berada dalam kodisi seperti ini:
  1. Individu merasa tidak puas terhadap kondisi aktual dirinya saat ini (actual)
  2. Tetapi individu memiliki gambaran yang jelas tentang kondisi ideal yang ingin dicapai (ideal)
  3. Individu mempunyai gambaran jelas tentang apa yang harus dilakukan agar dapat mencapai kondisi ideal yang berawal dari kondisi actual (action step)
Artinya individu harus merasa tidak puas terhadap kondisinya dan mempunyai keinginan untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Tapi hal yang paling penting adalah individu harus tahu langkah-langkah yang harus individu jalani agar dapat mencapai kondisi yang ingin dia capai. Artinya individu harus dapat mengenal dirinya dengan baik, juga mengerti seluk beluk tujuan yang ingin digapainya.
Self Directed Change mempunyai tahapan terapan sebagai berikut:
  1. Meningkatkan Kontrol Diri:
Definisi kontrol diri atau self control adalah kemampuan individu untuk mengarahkan tingkah lakunya sendiri dan kemampuan untuk menekan atau menghambat dorongan yang ada. Goldfried dan Merbaum, mendefinisikan kontrol diri sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu kearah konsekuensi positif. Artinya individu harus dapat bisa meningkatkan kontrol diri agar dapat menuju konsenkuensi positif yang didalam ini adalah kondisi actual step.
  1. Menetapkan Tujuan
Tujuan sangat penting untuk menambah motivasi untuk berubah, dengan adanya tujuan kita dapat mengetahui langkah-langkah yang harus disusun untuk menuju tujuan tersebut, tapi yang terpenting kita harus mempunyai tujuan terlebih dahulu. Tujuan terbersar bisa didukung juga dengan target-target kecil yang sebenarnya mendukung untuk menuju tujuan terbesar.
  1. Pencatatan Perilaku
Begitu tujuan sudah ditetapkan hal berikutnya adalah menyusun langkahnya. Langkah awal adalah pencatatan perilaku. Di sini perilaku yang baik dan buruk perlu dicatatat. Perilaku buruk yang dicatatat adalah perilaku yang perlu dirubah untuk mencapai kondisi ideal. Sedangkan perilaku yang baik juga perlu dicatatat agar dapat mengetahui apakah dalam diri individu terdapat perilaku yang mendukung untuk menuju kondisi ideal, bila ada perilaku itu perlu dipertahankan.
  1. Menyaring Anteseden Perilaku
Individu harus menuliskan perilaku yang ingin dirubah, dari sana individu akan dapat melihat konsenkuensi dan kerugian yang ada. Dari sini dapat menuju tahap berikutnya
  1. Menyusun Konsenkuensi yang Efektif
Setelah kita sudah memulai mengontrol beberapa kondisi yang memicu perilaku atau kebiasaan kita. Meningkatkan pengendalian diri, maka terdiri dari mengatur konsekuensi dari perilaku kita sehingga orang lain menerima perilaku yang kita yang sudah berubah. Perlu diingat juga saat kita merubah perilaku banyak konsekuensi yang harus dipikirkan, konsenkuensi terhadap diri sendiri maupun orang lain.
  1. Menerapkan Rencana Intervensi
Ketika kita sudah menyusun hal-hal diatas, artinya selanjutnya adalah merancang tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk melakukan perubahan. Apa saja yang harus dibuat, dan kondisi apa saja yang harus dibuat untuk melakukan tahapan-tahapan perubahan perilaku. Kemudian jalankan semuanya.
  1. Evaluasi
Selanjutnya individu harus sering melihat dirinya, maksudnya mengevaluasi apakah sudah terjadi perubahan, atau individu tetap sesuai di rencana yang ia susun, apakah target-target yang disususun sudah mulai tercapai samapai ke tujuan terbesarnya.
Itulah tujuh tahap Self Directed Changes.
Sumber:
Spencer,M.Lyle and Spencer,M.Signe, 1993, Competence at Work:Models for Superrior Performance, John Wily & Son,Inc,New York,USA
Dayakisni, Tri & Hudaniah (2003). Psikologi Sosial. UMM Press. Malang
Gibbons, Maurice. (2002). The Self Directed Learning Handbook Challenging Adolescent Student to Exel. San Fransisco: Jhon Wiley & Sons, Inc.
Atwater, E., 1983, Psychology of Adjustment, Personal Growth in a Changing Worls, 2nd Ed., Prentice Hall, New Jersey
Schultz, D., 1983, Psikologi Pertumbuhan, Model-Model kepribadian yang Sehat, Kanisius, Yogyakarta