I.
Pengertian
Psikoterapi
Psikoterapi merupakan salah satu keterampilan dasar yang perlu dimiliki oleh
seorang psikiater. Psikoterapi adalah kata yang meliputi setiap jenis terapi
untuk pikiran, bukan untuk bagian tubuh yang lain. Tetapi, ketika sebagian
orang mengucapkan kata itu, biasaya yang mereka maksud adallah terapi
yang digunakan oleh para psikiatris dan psikolog, bukan hal-hal yang lebih
bersifat alternatif seperti misalnya terapi tertawa atau terapi musik.
-
Tujuan
Psikoterapi
Menurut Ivey (dalam Gunarsa) tahun
1987 mengatakan Tujuan psikoterapi adalah membuat sesuatu yang tidak
saadar menjadi suatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakuka
terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru
dari konflik-konflik yang lama. Di sisi lain Corey (dalam Gunarsa) tahun 1991,
menjelaskan tujuan psikoterapi dengan pendekatan analisis adalah untuk membantu
klien dalam menghidupkan kebali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan
bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
Sedangkan menurut Guze, Richeimer dan Siegel (1997) menyebutkan psikoterapi
sebagai berikut:
1.
Perawatan akut (intervensi krisis dan stabilisasi)
2.
Rehabilitasi (memperbaiki gangguan perilaku berat)
3.
Pemeliharaan (pencegahan keadaan memburuk jangka panjang)
4.
Restrukturisasi eningkatkan perubahan yang terus-menerus pada klien)
- Unsur-unsur Psikoterapi
Menurut Masserman (dalam Guze, Richeimer dan Siegel) ada
tujuh “parameter pengaruh” yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis
psikoterapi, yaitu:
- Peran
sosial (martabat) psikoterapis
- Hubungan (persekutuan
terapeutik)
- Hak
- Retrospreksi
- Re-edukasi
- Rehabilitasi
- Resosialisasi
dan rekapitulasi
Unsur-unsur psikoterapeutik dapat dipilih
untuk masing-masing pasien dan dimodifikasi dengan berlanjutnya terapi.
-
Perbedaan
antara Psikoterapi dan Konseling
Brammer & Shostrom (dalam)
mengemukakan bahwa konseling ditandai oleh adanya terminologi seperti: “educational,
voational, supportive, situational, problem solving, conscious awareness,
normal, present-time dan short-term”. Sedangkan psikoterapi
ditandai oleh: “supportive [dalam keadaan krisis], reconstructive, depth
emphasis, analytical, focus on the past, neurotics and other severe emotional
problems and long term”.
Di sisi lain Pallone dan Patterson
(dalam Gunarsa) membedaka Konseling dan Psikoterapi sbb:
Konseling untuk
|
Psikoterapi untuk
|
1.
Klien
|
1.
Pasien
|
2.
Gangguan yang kurang serius
|
2. Gangguan yang serius
|
3.
Masalah: jabatan, pendidikan
|
3. Masalah kepribadian & pengambilan
keputusan
|
4.
Berhubungan dengan pencegahan
|
4. Berhubungan dengan penyembuhan
|
5.
Lingkungan pendidikan dan nonmedis
|
5. Lingkungan medis
|
6.
Berhubungan dengan kesadaran
|
6. Berhubungan dengan ketidak sadaran
|
7.
Metode pendidikan
|
7. Metode penyembuhan
|
-
Pendekatan
Psikoterapi Terhadap Mental ness
Pendekatan
psikoterapi terhadap mental illness menurut J.P. Chaplin, yaitu:
1. Biological
Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan
zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih
manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan
karena kurangnya insulin.
2. Psychological
Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk,
sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis
perkembangan, gangguan pikiran dan respon emosional penuh stres yang
ditimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial,
ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan
sepanjang hidup individu.
3. Sosiological
Meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari
gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan
pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi
sosio-budaya tertentu.
4. Philosophic
Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri
seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar
falsafahnya tetap ada, yakni menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien,
sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan
II.
Terapi Psikoanalisis
-
Konsep Dasar Teori Psikoanalisis tentang Kepribadian
1. KESADARAN
Sigmund
Freud mengemukakan bahwa kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni
sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious).
Topografi atau peta kesadaran ini dipakai untuk mendiskripsi unsur cermati
(awareness) dalan setiap event mental seperti berfikir dan berfantasi. Sampai
dengan tahun 1920an, teori tentang konflik kejiwaan hanya melibatkan ketiga
unsur kesadaran itu.
Baru pada
tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yakni id, ego,
dan superego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi
melengkapi/menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi atau tujuannya
(lihat representasi grafik struktur kepribadian pada Gambar 1. Enam elemen
pendukung struktur kepribadian itu adalah sebagai berikut:
a) Sadar
(Conscious)
Tingkat
kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu. Menurut
Freud, hanya sebagian kecil saja Bari kehidupan mental (fikiran, persepsi,
perasaan dan ingatan) yang masuk kekesadaran (consciousness). Isi daerah sadar
itu merupakan basil proses penyaringan yang diatur oleh stimulus atau
cue-eksternal.
b) Prasadar
(Preconscious)
Disebut
juga ingatan siap (available memory), yakni tingkat kesadaran yang menjadi
jembatan antara sadar dan taksadar. Isi preconscious berasal dari conscious dan
clan unconscious. Pengalaman yang ditinggal oleh perhatian, semula disadari
tetapi kemudian tidak lagi dicermati, akan ditekan pindah ke daerah prasadar.
Di sisi lain, isi-materi daerah tak sadar dapat muncul ke daerah prasadar.
Kalau sensor sadar menangkap bahaya yang bisa timbul akibat kemunculan materi
tak sadar materi itu akan ditekan kembali ke ketidaksadaran. Materi taksadar
yang sudah berada di daerah prasadar itu bisa muncul kesadaran dalam bentuk
simbolik, seperti mimpi, lamunan, salah ucap, dan mekanisme pertahanan diri.
c) Tak
Sadar (Unconscious)
Tak sadar
adalah bagian yang paling dalam dari struktur kesadaran dan menurut Freud
merupakan bagian terpenting dari jiwa manusia. Secara khusus Freud membuktikan
bahwa ketidaksadaran bukanlah abstraksi hipotetik tetapi itu adalah kenyataan
empirik
Ketidaksadaran
itu berisi insting, impuls dan drives yang dibawa dari lahir, dan
pengalaman-pengalaman traumatik (biasanya pada masa anak-anak) yang ditekan
oleh kesadaran dipindah ke daerah taksadar. Isi atau materi ketidaksadaran itu
memiliki kecenderungan kuat untuk bertahan terus dalam ketidaksadaran,
pengaruhnya dalam mengatur tingkahlaku sangat kuat namun tetap tidak disadari.
2. STRUKTUR
KEPRIBADIAN
Sigmund
Freud mengemukakan tiga struktur spesifik kepribadian yaitu Id, Ego dan
Superego. Ketiga struktur tersebut diyakininya terbentuk secara mendasar pada
usia tujuh tahun. Struktur ini dapat ditampilkan secara diagramatik dalam
kaitannya dengan aksesibilitas bagi kesadaran atau jangkauan kesadaran
individu. Id merupakan libido murni atau energi psikis yang bersifat irasional.
Id merupakan sebuah keinginan yang dituntun oleh prinsip kenikmatan dan
berusaha untuk memuaskan kebutuhan ini.
3. PERKEMBANGAN
PSIKOSEKSUAL
Tahap
Perkembangan Psikoseksual Sigmund Freud adalah salah satu teori yang
paling terkenal, akan tetapi juga salah satu teori yang paling kontroversial.
Freud percaya kepribadian yang berkembang melalui serangkaian tahapan masa
kanak-kanak di mana mencari kesenangan-energi dari id menjadi fokus pada area
sensitif seksual tertentu. Energi psikoseksual, atau libido , digambarkan
sebagai kekuatan pendorong di belakang perilaku.Menurut Sigmund Freud,
kepribadian sebagian besar dibentuk oleh usia lima tahun. Awal perkembangan
berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian dan terus mempengaruhi perilaku
di kemudian hari.
· Fase
Oral
Pada tahap
oral, sumber utama bayi interaksi terjadi melalui mulut, sehingga perakaran dan
refleks mengisap adalah sangat penting.
· Fase
Anal
Pada tahap
anal, Freud percaya bahwa fokus utama dari libido adalah pada pengendalian
kandung kemih dan buang air besar. Konflik utama pada tahap ini adalah
pelatihan toilet – anak harus belajar untuk mengendalikan kebutuhan tubuhnya.
· Fase
Phalic
Pada tahap
phallic , fokus utama dari libido adalah pada alat kelamin. Anak-anak juga
menemukan perbedaan antara pria dan wanita. Freud juga percaya bahwa anak
laki-laki mulai melihat ayah mereka sebagai saingan untuk ibu kasih sayang itu.
Kompleks Oedipusmenggambarkan perasaan ini ingin memiliki ibu dan keinginan
untuk menggantikan ayah.Namun, anak juga kekhawatiran bahwa ia akan dihukum
oleh ayah untuk perasaan ini, takut Freud disebut pengebirian kecemasan. Istilah
Electra kompleks telah digunakan untuk menggambarkan satu set sama perasaan
yang dialami oleh gadis-gadis muda.
· Fase
Latent
Periode
laten adalah saat eksplorasi di mana energi seksual tetap ada, tetapi diarahkan
ke daerah lain seperti pengejaran intelektual dan interaksi sosial. Tahap ini
sangat penting dalam pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi dan
kepercayaan diri. Freud menggambarkan fase latens sebagai salah satu yang
relatif stabil. Tidak ada organisasi baru seksualitas berkembang, dan dia tidak
membayar banyak perhatian untuk itu. Untuk alasan ini, fase ini tidak selalu
disebutkan dalam deskripsi teori sebagai salah satu tahap, tetapi sebagai suatu
periode terpisah.
· Fase
Genital
Pada tahap
akhir perkembangan psikoseksual, individu mengembangkan minat seksual yang kuat
pada lawan jenis. Dimana dalam tahap-tahap awal fokus hanya pada kebutuhan
individu, kepentingan kesejahteraan orang lain tumbuh selama tahap ini. Jika
tahap lainnya telah selesai dengan sukses, individu sekarang harus seimbang,
hangat dan peduli. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menetapkan keseimbangan
antara berbagai bidang kehidupan.
4. MEKANISME
PERTAHANAN EGO
1. Represi
(Repression): Bentuk pertahanan ego dengan menyingkirkan pikiran-pikiran atau
ingatan-ingatan yang tidak diinginkan. Ia akan sengaja melupakan kenanganatau
pikiran yang tidak menyenangkan atau tidak sesuai dengan keinginannya.
2. Kompensasi:
Yaitu dengancara menutupi kelemahan dalam dirinya dengan menonjol-nonjolkan
sifat lain, lalu dicari kepuasans ecara berlebihan dalam bidang lain tersebut.
3. Konversi
(Convertion): Adalah mekanisme konflik emosional yang diekspresikan keluar.
Misal :Seseorang yang sedang stress menjadi marah-marah, teriak-teriak, atau
berolah raga.
4. Penyangkalanatau
Denial: Mekanisme dimana seseorang menghindari kenyataan dan secara sadar
menyangkal adanya kenyataan tersebut. Ia menyangkal realita yang dapat
menimbulkan rasa sakit, malu, ataucemas.
5. Pemindahan
(Displacement): Dimana emosi-emosi yang terjadi pada dirinya DILAMPIASKAN ke
objek-objek atau orang lain.
6. Disosiasi:
Dengan cara memutuskan atau mengubah beban emosi dalam dirinya.
7. Identifikasi:
dimana seseorang mempertinggi harga dirinya dengan mempolakan dirinya serupa
dengan orang lain (biasanya seorang idola atau figur).
8. Proyeksi:
yaitu seseorang yang melindungi dirinya dari tabiat-tabiat, sikap, dan
karakternya sendiri, atau pun perasaannya dengan melemparkan atau
menyalahkannya ke orang lain.
9. Rasionalisasi:
seseorang yang mencarialasan-alasan yang dibenarkanataudapatditerimaolehnormamaupun
orang lain terhadaptindakannyaataupikirannya.
10. PembentukanReaksi:
proses dimana mengambil objek kedalam struktur egonya sendiri agar tidak
menuruti keinginannya yang jelek dan diambil sikap yang sebaliknya.
11. Regresi:
adalah keadaan seseorang yang kembali ketingkat awal menjadi kurang matang dan
kurang adaptif.
12. Sublimasi:
yaitu kehendak-kehendak atau pikiran-pikiran atau tindakan-tindakan asadar yang
tidak dapat diterima oleh lingkungan atau masyarakat disalurkan menjadia
ktifitas yang memiliki nilai sosial yang tinggi.
-
Unsur-unsur terapi psikoanalisis
1. Tujuan
psikoterapi dengan pendekatan Psikodinamik menurut Ivey, et al (1987) adalah :
membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi
kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan
menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
2. Tujuan
psikoterapi dengan pendekatam psikoanalisis menurut Corey (1991) dirumuslan
sebagai : membuat sesuatu yag tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari.
Membantu klien dalam menghidupakan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah
lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman
intelektual.
3. Tujuan
psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat pada peribadi, menurut Ivey,
et al (1987) adalah : untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki
seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri
yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi
jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.
-
Teknik-teknik terapi psikoanalisis
1. Asosiasi
Bebas
Asosiasi
Bebas merupakan teknik utama dalam psikoanalisis. Terapis meminta klien agar
membersihkan pikirannya dari pikiran-pikiran dan renungan-renungan sehari-hari,
serta sedapat mungkin mengatakan apa saja yang muncul dan melintas dalam
pikiran. Cara yang khas adalah dengan mempersilakan klien berbaring di atas
balai-balai, sementara terapis duduk dibelakangnya sehingga tidak mengalihkan
perhatian klien pada saat-saat asosiasinya mengalir dengan bebas.
Asosiasi
bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa
lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis masa
lalu, yang kemudian dikenal dengan katarsis. Kartarsis hanya
menghasilkan perbedaan sementara atas pengalaman-pengalaman menyakitkan pada
klien, tetapi tidak memainkan peran utama dalam
proses treatment (Corey, 1995).
2. Penafsiran
(Interpretasi)
Penafsiran
merupakan prosedur dasar di dalam menganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi,
resistensi, dan transferensi. Caranya adalah dengan tindakan-tindakan terapis
untuk menyatakan, menerangkan dan mengajarkan klirn makna-makna tingkah laku
apa yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi, dan hubungan
terapeutik itu sendiri. Fungsi dari penafsiran ini adalah mendorong ego untuk
mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses pengungkapan alam bawah
sadar secara lebih lanjud. Penafsiran yang diberikan oleh terapis menyebabkan
adanya pemahaman dan tidak terhalanginya alam bawah sadar pada diri klien.
(Corey, 1995).
3. Analisis
Mimpi
Analisis
Mimpi adalah prosedur atau cara yang penting untuk mengungkap alam bawah sadar
dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak
terselesaikan. Selama tidur, pertahanan-pertahanan melemah, sehingga
perasaan-perasaan yang direpres akan muncul kepermukaan, meski dalam
bentuk lain. Freud memandang bahwa mimpi merupakan “jalan istimewa menuju
ketidaksadaran”, karena melalui mimpi tersebut hasrat-hasrat,
kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan tak sadar dapat diungkapkan. Beberapa
motivasi sangat tidak dapat diterima oleh seseorang, sehingga akhirnya
diungkapkan dalam bentuk yang disamarkan atau disimbolkan dalam bentuk yang
berbeda.
Mimpi
memiliki dua taraf, yaitu isi laten dan isi manifes. Isi laten
terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik, dan tidak
disadari. Karena begitu menyakitkan dan mengancam, maka dorongan-dorongan
seksual dan perilaku agresif tak sadar (yang merupakan isi laten)
ditransformasikan ke dalam isi manifes yang lebih dapat diterima, yaitu impian
yang tampil pada si pemimpi sebagaimana adanya. Sementara tugas terapis adalah
mengungkapkan makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol yang
terdapat dalam isi manifes. Di dalam proses terapi, terapis juga dapat meminta
klien untuk mengasosiasikan secara bebas sejumlah aspek isi manifes impian
untuk mengungkapkan makna-makna yang terselubung (Corey, 1995).
4. Resistesi
Resistensi
adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan
bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas dan analisis mimpi, klien
dapat menunjukkan ketidaksediaan untuk menghubungkan pikiran, perasaan, dan
pengalaman tertentu. Freud memandang bahwa resistensi dianggap sebagai dinamika
tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang
tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas
dorongan atau perasaan yang direpres tersebut. Dalam proses terapi, resistensi
bukanlah sesuatu yang harus diatasi, karena merupakan perwujudan dari
pertahanan klien yang biasanya dilakukan sehari-hari. Resistensi ini dapat
dilihat sebagai sarana untuk bertahan klien terhadap kecemasan, meski
sebenarnya menghambat kemampuannya untuk menghadapi hidup yang lebih memuaskan
(Corey, 1995).
5. Transferensi
Resistensi
dan Transferensi merupakan dua hal inti dalam terapi psikoanalisis.
Transferensi dalam keadaan normal adalah pemindahan emosi dari satu objek ke
objek lainnya, atau secara lebih khusus pemindahan emosi dari orangtua kepada
terapis. Dalam keadaan neurosis, merupakan pemuasan libido klien yang diperoleh
melalui mekanisme pengganti atau lewat kasih sayang yang melekat dan kasih
sayang pengganti. Seperti ketika klien menjadi lekat dan jatuh cinta pada
terapis sebagai pemindahan dari orangtuanya (Chaplin, 1995). Transferensi
mengejawantah ketika dalam proses terapi “urusan yang tidak
selesai” (unfinished business) masa lalu klien dengan orang-orang
yang dianggap berpengaruh menyebabkan klien mendistorsi dan bereaksi terhadap
terapis sebagaimana dia bereaksi terhadap ayah/ibunya. Dalam hubungannya dengan
terapis, klien mengalami kembali perasaan menolak dan membenci sebagaimana yang
dulu dirasakan kepada orangtuanya. Tugas terapis adalah membangkitkan neurosis
transferensi klien dengan kenetralan, objektivitas, keanoniman dan kepasifan
yang relatif. Dengan cara ini, maka diharapkan klien dapat menghidupkan kembali
masa lampaunya dalam terapi dan memungkinan klien mampu memperoleh pemahaman
dan sifat-sifat dari fiksasi-fiksasi, konflik-konflik atau
deprivasi-deprivasinya, serta mengatakan kepada klien suatu pemahaman mengenai
pengaruh masa lalu terhadap kehidupannya saat ini (Corey, 1995)
III.
Terapi Humanistik
-
Konsep
Dasar Pandangan Humanistik tentang Kepribadian
Banyak sekali teori yang mengemukakan tentang kepribadian, akan tetapi dalam
pembahasan makalah ini hanya akan membahas mengenai teori kepribadian
Humanistic, Maslow, Dan Kelly. Dalam pandangan Humanistik, manusia bertanggung
jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan
untuk mengubah sikap dan perilaku mereka. Aliran Humanistik menyumbangkan arah
yang positif dan optimis bagi pengembangan potensi manusia, disebut sebagai
yang mengembalikan hakikat psikologi sebagai ilmu tentang manusia. Maslow
menekankan bahwa individu merupakan kesatuan yang terpadu dan terorganisasi.
Kelly meyakini bahwa tidak ada kebenaran yang objektif dan kebenaran yang
mutlak absolut.
Teori humanistik berkembang sejak tahun 1950-an sebagai teori yang menentang
teori-teori psikoanalisis dan behavioristik. Serangan humanistik terhadap dua
teori ini, adalah bahwa kedua-duanya bersifat “dehumanizing” (melecehkan
nilai-nilai manusia). Teori freud di kritik, karena memandang tingkah laku
manusia didominasi atau ditentukan oleh dorongan yang bersifat primitif, dan
animalistik (hewani). Sementara behavioristik dikritik, karena teori ini terlalu
asyik denagn penelitiannya terhadap binatang, dan memganalisis kepribadian
secara pragmentaris. Kedua teori ini dikritik, karena memandang manusia sebagai
bidak atau pion yang tak berdya dikontrol oleh lingkungan dan masa lalu, dan
sedikit sekali kemampuan untuk mengarahkan diri.
Teori humanistik dipandang sebagai “third force” (kekuatan ketiga) dalam
psikologi, dan merupakan alternatif dari kedua kekuatan yang dewasa ini dominan
(psikoanlisis dan behavioristik). Kekuatan ketiga ini disebut humanistik karena
memiliki minat yang eksklusif terhadap tingkah laku manusia. Humanistik dapat
diartikan sebagai “Orientasi eoritis yang menekankan kualitas manusia yang
unik, khususnya terkait dengan free will (kemauan bebas) dan potensi untuk
mengembangkan dirinya.
- Unsur-Unsur Terapi
1. Munculnya Gangguan
Model humanistik kepribadian, psikopatologi, dan psikoterapi awalnya menarik
sebagian besar konsep-konsep dari filsafat eksistensial, menekankan kebebasan
bawaan manusia untuk memilih, bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan hidup
sangat banyak pada saat ini. Hidup sehat di sini dan sekarang menghadapkan kita
dengan realitas eksistensial menjadi, kebebasan, tanggung jawab, dan pilihan,
serta merenungkan eksistensi yang pada gilirannya memaksa kita untuk menghadapi
kemungkinan pernah hadir ketiadaan. Pencarian makna dalam kehidupan
masing-masing individu adalah tujuan utama dan aspirasi tertinggi. Pendekatan
humanistik kontemporer psikoterapi berasal dari tiga sekolah pemikiran yang
muncul pada 1950-an, eksistensial, Gestalt, dan klien berpusat terapi.
2. Tujuan Terapi
Pada dasarnya, tujuan terapi eksistensial adalah:
a) Meluaskan kesadaran diri klien.
b) Meningkatkan kesanggupan pilihannya
.
3. Peran Terapis
Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikoterapi Humanistik memiliki orientasi
bersama yang mencakup hal-hal berikut :
ü Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi
ü Menyadari peran dan tanggung jawab terapis
ü Mengakui sifat timbale balik dari hubungan terapeutik.
ü Berorientasi pada pertumbuhan
ü Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang
menyeluruh.
ü Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tangan
klien.
ü Memandang terapis sebagai model, bisa secara implicit menunjukkan kepada klien
potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
ü Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandagan dan untuk mengembangkan
tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
ü Bekerja kea rah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan
klien.
- Teknik-teknik terapi
Humanistik
Kedudukan teknik adalah nomor dua dalam hal menciptakan hubungan yang akan bisa
membuat konselor bisa secara efektif menantang dan memahami klien.
Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu:
1. Penerimaan
2. Rasa hormat
3. Memahami
4. Menentramkan
5. Memberi dorongan
6. Pertanyaan terbatas
7. Memantulkan pernyataan dan perasaan klien
8. Menunjukan sikap yang mencerminkan ikut mersakan apa yang dirasakan klien
9. Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna.
IV.
Person Centered Therapy (ROGERS)
-
Konsep Dasar Pandangan Rogers tentang Kepribadian
1. Pengalaman
Pengalaman
mengacu pada dunia pribadi individu. Setiap saat, sebagian dari hal ini terkait
akan kesadaran. Misalnya, kita merasakan tekanan pena terhadap jari – jari kita
seperti yang kita tulis. Beberapa mungkin sulit untuk membawa ke dalam
kesadaran, seperti ide, “Aku orang yang agresif”. Sementara kesadaran
masyarakat yang sebenarnya dari total lapangan pengalaman mereka mungkin
terbatas, setiap individu adalah satu – satunya yang bisa tahu itu seluruhnya.
2. Realitas
Untuk
tujuan psikologis, realitas pada dasarnya adalah dunia pribadi dari persepsi
individu, meskipun untuk tujuan sosial realitas terdiri dari orang – orang yang
memiliki persepsi tingkat tinggi kesamaan antara berbagai individu. Dua orang
akan setuju pada kenyataan bahwa orang tertentu adalah politisi. Satu melihat
dirinya sebagai seorang wanita baik yang ingin membantu orang dan berdasarkan
kenyataan orang menilai untuk dirinya. Kenyataannya orang lain adalah bahwa
politisi menyisihkan uang untuk rakyat dalam memiliki tujuan untuk memenangi
hati dari rakyat. Oleh karena itu orang ini memberi suara padanya (wanita). Dalam
terapi, di sebut sebagai merubah perasaan dan merubah persepsi.
3. Organisme
Bereaksi sebagai Terorganisir yang utuh
Seseorang
mungkin lapar, tetapi karena harus menyelesaikan laporan. Maka, orang tersebut
akan melewatkan makan siang. Dalam psikoterapi, klien sering menjadi lebih
jelas tentang apa yang lebih penting bagi mereka. Sehingga perubahan perilaku
di arahkan dalam tujuan untuk di klasifikasikan. Seorang politisi dapat
memutuskan untuk tidak mrncalonkan diri untuk mendapatkan jabatan karena ia
memutuskan bahwa kehidupan keluarganya lebih penting dari pada mencalonkan diri
sebagai pejabat.
4. Organisme
mengaktualisasi kecenderungan (The Organism Actualizing Tendency)
Ini adalah
prinsip utama dalam tulisan – tulisan dari Kurt Goldstein, Hobart Mowrer, Harry
Stack Sullivan, Karen Horney, dan Andras Angyai. Untuk nama hanya beberapa.
Perjuangan untuk mengajarkan anak dalam belajar jalan adalah sebuah contoh. Ini
adalah keyakinan Rogers dan keyakinan sebagaian besar teori kepribadian yang
lain. Di beri pilihan bebas dan tidak adanya kekuatan eksternal. Individu lebih
memilih untuk menjadi sehat daripada sakit, untuk menjadi independen dari pada
bergantung. Dan secara umum untuk mendorong pengembangan optimal dari organisme
total.
5. Frame
Internal Referensi
Ini adalah
bidang persepsi individu. Ini adalah cara dunia muncul dan sebuah makna yang
melekat pada pengalaman dan melibatkan perasaaan. Dari titik orang memiliki
pusat pandangan. Kerangka acuan internal memberikan pemahamana sepenuhnya
tentang mengapa orang berperilaku seperti yang mereka lakukan. Hal ini harus di
bedakan dari penilaian eksternal perilaku, sikap, dan kepribadian.
6. Konsep
Diri
Istilah – istilah mengacu pada gesalt, terorganisir konsisten, konseptual
terdiri dari persepsi karakteristik “I” atau “saya” dan persepsi tentang
hubungan dari “I” atau “Aku” kepada orang lain dan berbagai aspek kehidupan,
bersama dengan nilai – nilai yang melekat pada persepsi ini. Menurut Gesalt
kesadaran merupakan cairan dan proses perubahan.
7. Symbolization
Ini adalah
proses di mana individu menjadi sadar. Ada kecenderungan untuk menolak
simbolisasi untuk pengalaman berbeda dengan konsep dirinya. Misalnya, orang –
orang menganggap dirinya benar akan cenderung menolak simbolisasi tindakan
berbohong. Pengalaman ambigu cenderung di lambangkan dengan cara yang konsisten
dengan konsep diri. Seorang pembicara kurang percaya diri dapat di lambangkan
khalayak diam sebagai terkesan, orang yang percaya diri dapat melambangkan
sebuah kelompok yang penuh perhatian dan tertarik.
8. Penyesuaian
Psikologis & Ketidakmampuan Menyesuaikan diri
Hal ini
mengacu pada konsistensi, atau kurangnya konsistensi, antara pengalaman
individu sensorik dan konsep diri. Sebuah konsep diri yang mencakup unsur –
unsur kelemahan dan ketidaksempurnaan memfasilitasi simbolisasi dari pengalaman
kegagalan. Kebutuhan untuk menolak atau mendistorsi pengalaman seperti tidak
ada dan karena itu menumbuhkan kondisi penyesuaian psikologis.
9. Organismic
Valuing Process
Ini adalah
proses yang berkelanjutan di mana individu bebas bergantung pada bukti indra
mereka sendiri untuk membuat penilaian. Hal ini yang berbeda dengan sistem
fixed menilai intrijected di tandai dengan “kewajiban” dan “keharusan” dan juga
dengan apa yang seharusnya benar / salah. Proses menilai organismic konsisten
dengan hipotesis.
10. The
Fully Functioning Person
Rogers
mendefinisikan mereka yang bergantung pada Organismic valuing process seperti
Fully functioning person. Dapat mengalami semua perasaan mereka, ketakutan,
memungkinkan kesadaran bergerak bebas di dalam pikiran mereka dan melalui
pengalaman mereka.
-
Uunsur-unsur Terapi PERSON CENTERED THERAPY
1. Peran
Terapis
Menurut
Rogers, peran terapis bersifat holistik, berakar pada cara mereka berada dan
sikap – sikap mereka, tidak pada teknik – teknik yang di rancang agar klien
melakukan sesuatu. Penelitian menunjukkan bahwa sikap – sikap terapislah yang
memfasilitasi perubahan pada klien dan bukan pengetahuan, teori, atau teknik –
teknik yang mereka miliki. Terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai
instrument perubahan. Fungsi mereka menciptakan iklim terapeutik yang membantu
klien untuk tumbuh. Rogers, juga menulis tentang I-Thou. Terapis menyadari
bahasa verbal dan nonverbal klien dan merefleksikannya kembali. Terapis dan
klien tidak tahu kemana sesi akan terarah dan sasaran apa yang akan di capai.
Terapis percaya bahwa klien akan mengembangkan agenda mengenai apa yang ingin
di capainya. Terapis hanya fasilitator dan kesabaran adalah esensial.
2. Tujuan
Terapis
Rogers berpendapat bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan – tujuan atau
nilai – nilai yang di milikinya pada pasien. Fokus dari terapi adalah pasien.
Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin atau
mengarahkan jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan – perasaan yang di
ungkapkan oleh pasien untuk membantunya berhubungan dengan perasaan –
perasaanya yang lebih dalam dan bagian – bagian dari dirinya yang tidak di akui
karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau
menguraikan dengan kata – kata pa yang di ungkapkan pasien tanpa memberi
penilaian.
-
Teknik-teknik
PERSON CENTERED THERAPY
Untuk
terapis person – centered, kualitas hubungan terapis jauh lebih penting
daripada teknik. Rogers, percaya bahwa ada tiga kondisi yang perlu dan sudah
cukup terapi, yaitu :
1. Empathy
2. Positive Regard (acceptance)
3. Congruence
Sumber :
Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling dan
psikoterapi. Bandung: Refika Aditama
Corsini, R. (2000). CURRENT PSYCHOTHERAPIES. Itasca ,
Illinois: F.E. PeacockPublishers.
Gunarsa, Singgih D. 1996. Konseling dan Psikoterapi.
Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Murad, J. (2006). Dasar – Dasar Konseling. Jakarta:
Universitas Indonesia.
Semiun, Y. (2010). Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius.