Tuesday, 28 November 2017

system development


Nama Kelompok :

Dian Rohmah SW (12514999)Hazeta Marchya (14514863)Monica Valencia (16514836)



SISTEM INFORMASI KONSELING DOCTOR IN YOUR HAND


Investigation :
-          Tujuan pembuatan sistem :
·         Mengetahui sakit apa yang sedang dialami
·         Mengetahui tanda-tanda atau gejala-gejala sakit
·         Dapat memberikan penanganan yang pas jika telah mengetahui penyakit apa yang dialami
·         Memberikan solusi berupa resep obat herbal atau alami untuk mengatasi sakit tersebut

Analysis :
-          Kapan sistem digunakan :
Sistem ini dibuat  dan digunakan pada saat seseorang merasakan kondisinya tidak baik dan ingin mengetahui sakit apa yang sedang dialaminya.
-          Kelebihan sistem :
·         Lebih praktis dan efisien, karena dapat digunakan kapan saja dan dimana saja.
·         Dapat digunakan oleh siapa saja, dari anak-anak sampai dewasa.
·         Menghemat waktu, tidak perlu pergi kerumah sakit untuk mengetahui sakit apa yang sedang dialaminya.
·         Tidak memerlukan biaya konsultasi dokter, jadi lebih ekonomis.
·         Tidak berbahaya bagi kesehatan karena resep obat yang diberikan menggunakan bahan-bahan alami.
-          Kekurangan sistem :
·         Hasil yang diperoleh tidak terlalu akurat, karena hasil yang ditampilkan pada aplikasi tersebut  hanya berdasarkan gejala-gejala yang dialami oleh seseorang tersebut, bukan hasil dari ahlinya langsung atau dokter.
·         Program sistem mungkin dapat terjadi error dikarenakan server wib sibuk atau down dank arena komponen sistem belum sepenuhnya sempurna.

Design :
-          Pertama buka terlebih dahulu web konseling di www.doctorinyourhand .com
-          Setelah anda masuk kedalam web konseling ini kemudian anda diminta untuk mengisi apa aja yang anda rasakan pada kondisi badan atau tubuh anda dengan kata-kata yang benar atau tidak boleh disingkat.
-          Setelah itu anda diminta memilih pernyataan tentang sudah berapa lama anda merasakan kondisi tersebut.
-          Selanjutnya klik “proses” dan sistem akan memproses hasil dari jawaban yang telah anda berikan.
-          Setelah selesai memproses, akan muncul hasil dari pernyataan anda, berupa sakit apa yang sedang anda alami dan beserta solusi berupa resep herbal atau alami untuk mengobati sakit yang sedang anda alami.
-          Jika sudah selesai klik “selesai” lalu anda diminta untuk memberi komentar dan bintang tentang web tersebut sebelum keluar web.
-          Setalah itu klik “Close” untuk keluar dari web konseling kami.

Implementation :
Implementasi dalam sistem ini yaitu :

Raw Input
Instrumental Input
Environmental Input
Proses atau perantara output
Output
Individu yang merasakan kondisi badan tidak enak dan ingin mengetahui sakit apa yang sedang dialaminya
Program web → Konselor → tahapan menjalankan aplikasi → sarana yang dipakai (berupa web)



Tujuan program


Data diproses oleh konselor melalui perantara sistem



Hasil dari konseling

Sunday, 29 October 2017

Sistem (tugas 2)

Nama : Dian Rohmah            12514999
              Hazeta Marchya       14514863
              Monica Valencia       16514836
Kelas : 4pa15



System
Element

Input

Processing element
Outputs
Goals
Vending Machine tiket KRL (commuter line)
Kartu atau uang
Masukan kartu (jika untuk melakukan isi ulang atau mengambil jaminan dari kartu anda), dan bisa juga masukan uang berupa koin atau uang kertas apabila ingin membeli tiket, setelah anda masukan uang nanti dilayar aka n ada pilihan lalu anda pilih tujuan anda, apabila ingin mengambil jaminan masukan kartu anda lalu tekan pilihan ambil jaminan, kemudian akan kelar uang dari kotak kecil tempat dimana uangnya akan keluar.
Berupa uang (jika ingin melakukan pembelian tiket melalui vending machine)
Melakukan Transaksi.



Jadi dapat simpulkan bahwa sistem adalah sekelompok komponen dan elemen yang digabungkan menjadi satu untuk mencapai tujuan tertentu. Biasanya sistem terdiri dari input atau data yang dimasukkan , proses dalam menjalankan sistem, dan output atau hasil dari input yang telah diproses. Contoh disini adalah vending mechine krl, input nya adalah kartu atau uang. goalsnya melakukan melakukan transaksi yaitu membeli kartu baru, mengisi ulang kartu atau mengambil uang jaminan.

Sistem informasi psikologi

Nama : Dian Rohmah            12514999
              Hazeta Marchya       14514863
              Monica Valencia       16514836
Kelas : 4pa15



1)      Pengertian Sistem
           Sistem menurut Murdick, R.G (dalam Hutahean, 2014) adalah seperangkat elemen yang membentuk kumpulan atau prosedur-prosedur / bagan-bagan pengolahan yang mencari suatu tujuan tertentu. Menurut Indrajit (dalam Hutahean, 2014) mengemukakan bahwa sistem mengandung arti kumpulan-kumpulan dari komponen-komponen yang dimiliki unsur keterkaitan antara satu dengan lainnya.
Menurut Jugianto (dalam Hutahean,2014) mengemukakan bahwa sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sistem ini menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan suatu kesatuan yang nyata adalah objek nyata seperti tempat, benda, dan orang-orang-orang yang betul ada dan terjadi.
            Berdasarkan teori diatas disimpulkan bahwa sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang memiliki unsur keterkaitan antara satu dengan yang lainnya untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

2)      Pengertian Informasi
           Menurut Gordon B.Davis (dalam Hutahean, 2014) informasi adalah data yang telah menjadi suatu bentuk yang penting bagi si penerima dan mempunyai nilai nyata atau yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan yang sekarang atau keputusan-keputusan yang akan datang.
Informasi adalah data yang sudah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi pengguna, yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau mendukung sumber infomasi (Kusrini dan Koniyo, 2007). Menurut Hutahean (2014) informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya.
            Berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa informasi adalah data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang penting dan menjadi sebuah bentuk yang berguna bagi pengguna dalam menggambil keputusan saat ini atau mendukung sumber informasi.

3)     Pengertian Psikologi
           Gardner Murphy (dalam Sarwono, 2009) berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari respons yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya. Menurut Muhibbinsyah (2001) psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan.
Menurut Basuki (2008) psikologi adalah ilmu pengetahuan (ilmiah) yang mempelajari perilaku, sebagai manifestasi dari kesadaran proses mental, aktivitas motorik, kognitif dan juga emosional. Sedangkan Gardner Murphy (dalam Sarwono, 2009) berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari respons yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya.
            Berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku dan proses mental pada manusia baik selaku individu maupun kelompok dalam hubungannya dengan lingkungan.

4)      Definisi Sistem Informasi Psikologi
           Berdasarkan teori system, informasi dan psikologi, maka dapat disimpulkan bahwa Sistem informasi psikologi adalah kumpulan elemen-elemen atau data yang telah diolah dan  memiliki unsur keterkaitan antara satu dengan yang lainnya  sehingga menjadi sebuah bentuk yang berguna untuk mencapai suatu tujuan tertentu berdasarkan tingkah laku dan proses mental pada manusia baik selaku individu maupun kelompok dalam hubungannya dengan lingkungan.





Sumber :
Basuki, A. M. H. (2008). Psikologi umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Hutahaean, J. (2014). Konsep sistem informasi. Yogyakarta : Deepublish.
Kusrini & Koniyo, A. (2007). Tuntunan praktis membangun sistem informasi akuntansi dengan visual basic dan microsoft SQL server. Yogyakarta: CV Andi Offset.
Muhibbinsyah. (2001). Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sarwono, S. W. (2009). Pengantar psikologi umum. Jakarta : Rajawali Pers

Friday, 21 April 2017

Contoh kasus dan penerapan Logoterapi

Contoh kasus dan penerapan logoterapi
Keke adalah seorang wanita berusia 25 tahun. Keke mempunyai suatu fobia dengan seekor laba-laba Awal mula fobia pada si Keke adalah ketika dia berusia 5 tahun, Keke duduk di bawah pohon rindang dan saat itu pula laba-laba yang berada di pohon tersebut jatuh tepat di atas tangannya, Keke yang kaget langsung berlari menghampiri ibunya sambil menangis ketaakutan. Sejak saat itu Keke tidak berani lagi dengan seekor laba-laba atau sekedar duduk-duduk santai di bawah pohon. Ketika laba-laba melihat laba-laba secara langsung Keke menjerit histeris dan berlari menghindari tempat laba-laba itu berada, namun jika laba-laba melihat ulat berupa gambar A merasa geli atau pun melihatnya di tv.

Analisis kasus
Tahapan Tahapan dalam dalam logoterapi
Tahapan pertama adalah perkenalan denagn membangun raport. Raport adalah sesuatu yang penting dalam proses konseling atau terapi , karena raport itu berfungsi untuk membangun suasana yang nyaman serta membuat klien agar tidak tegang pada saat konseling atau terapi.
Tahapan yang kedua adalah tahap pengakuan atau pengungkapan masalah yang di hadapi klien terhadap konselor. Pada tahap ini konselor bertugas untuk mengarahkan klien untuk dapat mengungkapkan masalahnya tanpa keluar dari tema atau topic pembicaraan, jadi lebih terarah dan terstruktur.
Tahap selaanjutnya adalah pembahasan serta menyamakan suatu persepsi atau pemikiran antara konselor dan  klien.
Dan selanjutnya itu adalah tahapan evaluasi yaitu menyimpulkan suatu masalah klien dari informasi yang telah di peroleh kemudian di interpretasi untuk kemudian berlanjut ke teknik terapi selanjutnya yaitu yang bertujuan untuk mengubah sikap atau perilaku klien yang di anggap bermasalah.

Pada contoh kasus diatas dapat di simpulkan bahwa Keke mengalami fobia pada seekor laba-laba. Untuk cara penangannya menggunakan Logoterapi dengan teknik intensi paraadoksikal yang di kemukakan oleh frankl. Mengapa ? karena pada teknik ini membahas suatu fenomena ataau suatu kecamasan yang di alami oleh klien serta membatu klien untuk dapat menurunkan kecemasannya pada sesuatu yang ia takuti.

Paradoxical intention pada dasarnya memanfaatkan kemampuan mengambil jarak (self-detachment) dan kemampuan mengambil sikap terhadap kondisi diri sendiri dan lingkungan.Paradoxical intention terutama cocok untuk pengobatan jangka pendek pasien fobia (ketakutan irrasional). Pada teknik ini konselor bertugas untuk membuat sikap Keka dari takut menjadi akrab pada hal yang Keke takuti atau cemaskan. Pada teknik Keke di minta untuk  beruasaha menghindari atau melawan ketakutannya terhadap seekor laba-laba tersebut. Mengubah persepsinya yang awal nya takut menjadi berani. Salah satu cara yang dapat di lakukan oleh Keke bisa dengan mengajak ulat tersebut bercanda untuk menurunkan kadar kecemasan yang di alami Keke untk kemudian sikap Keke menjadi berani dan tidak takut lagi dengan seekor Laba-laba tersebut. Tahap ini harus di lakukakan bertahap dan rutin hingga kecemasan yang ada pada diri Keke berkurang atau bahkan dapat hilang.


Logoterapi,Rational Emotive Therapy,Terapi Kelompok,Terapi Perilaku (Tugas 2)

LOGOTERAPI

1. Konsep dasar pandangan Frankl tentang perilaku/kepribadian
Logoterapi berasal dari kata “logos” yang dalam bahasa yunani berarti makna dan juga rohani. Sedangkan terapi adalah penyembuhan atau pengobatan. Logoterai secara umum dapat digambarkan sebagai corak psikolog / psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup dan hasrat  adalah hidup yang didambakan.
2. Unsur-unsur terapi
a. Munculnya gangguan logoterapi biasanya dilakukan untuk klien-klien yang mengalami PTSD (Post Traumatic Stres Disorder), karena biasanya orang yang stres akibat trauma cenderungmenyalahkan diri sendiri bahkan bisa ke resiko mencederai diri dan orang lain.
b.Tujuan terapi
Tujuan dari logoterapi adalah memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal ada pada setiap orang terlepas dari ras,keyakinan dan agama. 2. Menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan. 3. Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mampu tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.
c. Peran terapis, peranan dan kegiatan terapis menurut Semiun (2006) terdapat beberapa peranan dan kegiatan terapis yaitu menjaga hubungan akrab dan pemisahan ilmiah, mengendalikan filsafat pribadi, terapis bukan guru, memberi makna lagi pada hidup, memberi makna lagi pada penderitaan, menekankan maknakerja dan menekankan makna cinta.
3. Teknik-teknik Logoterapi
Metode penanganan atau teknik-teknik terapi yaitu :
a.Intensi paradoksikal
Frankl memulai dengan membahas suatu fenomena yang disebut kecemasan antisipatori yaitu, kecemasan yang diitmbulkan oleh antisipasi individu atas suatu situasi dan atau gejala yang ditakutinya. Kecemasan antisipatori ini lazim dialami oleh para pengidap fobia.
b.Derefleksi
Frankl kembali menggunakan kecemasan antisipatori sebagai titik tolak. Menurut Frankl, pada kasus dimana kecemasan antisipatori menunjukkan pengaruhnya yang kuat, kita bisa mengamati suatu fenomena yang cukup menonjol, yakni paksaan kepada observasi diri atau pemaksaan untuk mengatasi diri sendiri. Istilah lain untuk fenomena tersebut adalah refleksi yang berlebihan
c.Bimbingan rohani
Menurut Frankl untuk kasus-kasus neurosis noogenik logoterapi merupakan terapi yang spesifik, sementara untuk sejumlah kasus lainnya logoterapi merupaka terapi non spesifik. Artinya, ada kasus-kasus dimana psikoterapi konvensional perlu diterapkan, dan logoterapi bisa digunakan sebagai pelengkap guna menghasilkan kesembuhan yang komplet. Ada pula kasus-kasus dimana yang diperlukan bukan terapi, melainkan sesuatu yang lain yaitu bimbingan rohani.

Terapi Rasional Emotif (Rational-Emotive Therapy)

1. Konsep Dasar Pandangan Rasional Emotif tentang Perilaku/Kepribadian
Terapi rasional-emotif ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi rasional, berpikir lurus dan tidak rasional, berpikir tidak lurus. Orang memiliki kecenderungan untuk mempertahankan diri, kebahagiaan, pemikiran dan verbalisasi, penuh kasih,bertemu dengan orang lain, berpertumbuh dan aktualisasi diri. Manusia juga memiliki kecenderungan untuk penghancuran diri, menghindari pemikiran, penundaan, pengulangan tanpa akhir dari kesalahan, intoleransi, perfeksionisme dan menyalahkan diri sendiri, dan menghindari mengaktualisasikan potensi selama perkembangan.
2. Unsur-Unsur Terapi Rasional Emotif
Unsur-unsur terapi rasional emotif menurut Corey (1982) adalah sebagai berikut:
a. Tujuan Terapi
Ellis (1979) mengelompokkan arah dari RET terhadap klien:
1) Self-Interest: tanpa menjadi benar-benar diserap ke dalam diri mereka, orang yang sehat secara emosional memiliki kapasitas untuk tertarik pada diri mereka sendiri.
2) Social-Interest: manusia jarang memilih untuk menyendiri, dan mereka memiliki kepentingan dalam hidup secara efektif dengan orang lain dalam kelompok sosial.
3) Self-Direction: meskipun secara emosional orang yang sehat mungkin lebih suka kerjasama dan dukungan orang lain, namun mereka tidak menuntut dukungan ini. mereka mampu memikul tanggung jawab untuk kehidupan mereka sendiri, dan mereka dapat bekerja untuk memecahkan secara independen sebagian besar masalah mereka sendiri.
4) Tolerance: orang dewasa dapat tidak menghukum kesalahan orang lain atas perilaku orang tersebut. 
5) Flexibility: orang sehat tetap fleksibel dalam ide-ide mereka, terbuka untuk berubah.
6) Commitment: individu yang sehat memiliki kapasitas untuk menjadi benar-benar diserap dalam sesuatu di luar diri mereka sendiri.
7) Self-Acceptance: orang sehat menerima diri karena mereka masih hidup, dan mereka menghindari mengukur diri mereka dengan prestasi eksternal dari evaluasi orang lain.

3. Teknik-Teknik Terapi Rasional Emotif
a. Cognitive Methods
RET sangat bergantung pada pemikiran, berselisih, berdebat, menantang, menafsirkan, menjelaskan, dan pengajaran. Berikut adalah beberapa teknik kognitif yang dapat dilakukan oleh terapis:
1) Disputing of Irrational Beliefs: metode kognitif yang paling umum dari RET terdiri dari aktif/direktif menentang keyakinan irasional klien. Terapis menunjukkan klien bahwa mereka terganggu bukan karena peristiwa atau situasi tertentu tetapi karena persepsi klien tentang peristiwa dan karena sifat dan pernyataan terhadap diri mereka. Terapis menantang keyakinan irasional dengan mengajukan pertanyaan seperti: dimanakah bukti keyakinan Anda? mengapa hidup anda bisa mengerikan jika hidup tidak seperti yang Anda inginkan?
2) Cognitive Homework: klien diberikan tugas, yang merupakan cara untuk melacak keharusan absolut yang merupakan bagian dari diri mereka. Seperti orang dengan bakat akting, namun takut berada di depan banyak orang karena takut gagal, orang tersebut diminta latihan melakukan sedikit akting di panggung, lalu terapis memberi pesan kepada orang tersebut untuk mengatakan sesuatu seperti: "saya bisa akting, saya akan melakukan yang terbaik yang saya dapat lakukan, tidak ada orang yang seperti saya, dan ini bukanlah akhir dari dunia."
3) Client's Disputing of an Irrational Belief: dengan teknik ini, klien melakukan satu hal yang menjadi irasionalitas utama setiap hari selama sedikitnya sepuluh menit. Klien melakukan hal tersebut sampai keyakinan irasional tidak lagi berusaha ditahan, atau sampai berkurang.
4) Bibliotherapy: meminta klien untuk membaca literatur rasional-emotif, yang dirancang untuk membantu mereka dalam proses restrukturisasi kognitif.
5) Employing New Self-Statements: setelah klien belajar untuk melawan keyakinan merusak diri sendiri, kemudian melakukan pengajaran yang mengarah ke pernyataan rasional dan asumsi yang konstruktif.
b. Emotive Techniques
Secara emotif, terapis menggunakan berbagai prosedur, termasuk penerimaan tanpa syarat, rasional-emotif bermain peran, modeling, self-statements, citra rasional-emotif, dan latihan menyerang rasa malu. Klien diajarkan nilai penerimaan diri tanpa syarat. Meskipun perilaku mereka mungkin sulit untuk menerima, mereka sebagai pribadi memiliki nilai intrinsik. Mereka diajarkan bagaimana merusak itu adalah untuk menempatkan diri merasa kekurangan. Salah satu teknik utama mengajar klien penerimaan diri adalah modeling.
c. Behavioral Techniques
Praktisi biasanya menggunaka operant conditioning, self-management principles, systematic desensitization, instrumental conditioning, biofeedback, teknik relaksasi, dan modeling. Klien benar-benar melakukan hal-hal baru dan sulit, dan dengan cara ini mereka menempatkan pengetahuan mereka dengan bentuk tindakan nyata.


Terapi Kelompok (Group Therapy)

1.      Konsep Dasar
Fokus dari terapi kelompok adalah pada terapi yang dilakukan pada dinamika kelompok dan kemampuan interpesonal, bukan pada perubahan kepribadian dasar. Terapi kelompok lebih berfokus pada perbaikan dan rekonstruksi sifat dari pada pengelolaan masalah perkembangan yang sedang terjadi. Karena populasi klien yang cenderung menderita masalah emosional yang lebih parah, penawaran psikoterapi kelompok dengan kesulitan masalalulah yang menghambat fungsi saat ini. Terapi kelompok biasanya mencoba untuk membantu peserta untuk mengalami kembali situasi yang menyakitkan dan untuk mengekspresikan perasaan secara intensif, seperti kebencian intens. karena ini pengalaman traumatis yang muncul kembali dalam kelompok, peserta mendapatkan wawasan tentang bagaimana masalalu mereka yang penuh dinamika secara sadar mengganggu fungsi kelompok. Terapi ini cenderung dilakukan dengan durasi yang relatif lama. Terapi kelompok dapat didasarkan pada berbagai model terapi termasuk psikoanalisis, behavior, dan kerangka kerja fenomenologis.
2.      Unsur-Unsur Terapi Kelompok
a. Tujuan terapi
Meningkatkan identitas diri, menyalurkan emosi dna membagi perasaan antar sesama didalam kelompok, meningkatkan keterampilan hubungan sosial, meningkatkan kemampuan hidup mandiri
b. Fungsi Terapis
Wolf (1963) menemukan fungsi-fungsi lain dari konselor sebagai pemimpin kelompok, yaitu :
1) Berusaha untuk mengakui kesalahan sendiri dan merasa rela memberikan beberapa fungsi kepemimpinan kepada para anggota kelompok, apabila fungsi itu mempunyai manfaat terapeutik bagi kelompoknya.
2) Menghindari sikap diktator dan gaya kepemimpinan yang memojokkan anggota untuk mengikutipendapat terapis.
3) Menyambut baik pernyataan pengalihan dalam kelompok sebagai kesempatan untuk keberhasilan kerja.
4) Membimbing anggota ke arah kesadaran penuh dan ke arah integrasi sosial.
5) Melihat kelompok yang dipimpinnya sebagai wahana yang mempunyai potensi yang kuat.
6) Mengakui kemampuan potensial para anggota kelompok dalam menafsirkan dan mengintegrasikan materi yang dihasilkan oleh anggota lain dan mengakui kemampuan mereka untuk mendekati kebenaran yang tidak disadarinya.
7) Waspada terhadap perbedaan individual di dalam kelompoknya.
8) Menggunakan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik di dalam kelompok.
9) Mempertahankan sikap optimis apabila kelompok mulai merasa bimbang.
10) Member contoh mengenai kesederhanaan, kejujuran dan bertindak langsung.
11) Menciptakan suasana emosional yang bebas dengan membuka perasaannya.
3.      Teknik-Teknik Terapi Kelompok
Menurut Brammer, Shostrom dan Abrego (1994), teknik-teknik dalam terapi kelompok adalah sebagai berikut:
a.      Psychodrama Techniques
Psikodrama sebagai teknik bermain peran untuk membantu klien dengan menerapkan adegan dari masalah mereka yang akan meningkatkan pemahaman mereka tentang konflik mereka.
Bermain peran akan membantu klien memperoleh perspektif yang lebih baik dari diri mereka sendiri dan orang lain. dapat digunakan, misalnya, untuk berlatih menghadapi situasi sosial yang sulit klien.
Bahkan ketika bisa digunakan dalam situasi kelompok pekerja yang memenuhi syarat, penekanan harus ditempatkan pada kenyataan bahwa banyak komplikasi dapat timbul jika tidak dilakukan dengan benar. Bach (1954) memperingatkan efek traumatis kemungkinan akan tereksternalisasi mengancam melalui bermain peran.
b.      T-Group Techniques
Salah satu kontribusi utama dari Training (T) kelompok untuk para klien memahami proses pengambilan keputusan mereka sendiri. Kelompok diberikan daftar 15 barang dan diminta untuk mengurutkan peringkat barang-barang tersebut dimulai dari hal yang penting bagi mereka untuk bertahan hidup. Kelompok ini kemudian diminta untuk berdiskusi mengenai pengalaman mereka, mengeksplorasi pola kepemimpinan, resolusi konflik, dan proses pengambilan keputusan.
c.       Encounter Techniques
Teknik encounter (pertemuan) dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran diri. Misalnya, digunakan untuk memperluas kesadaran sensorik dan kepercayaan interpersonal. Peserta secara berpasangan diminta untuk memandu pasangan dengan mata tertutup dan menggunakan tangan untuk mengeksplorasi sambil berjalan. Memandu untuk melindungi pengikut/pasangannya dari setiap langkah menuju bahaya, seperti pohon, atau dinding dan membujuk pasangan untuk mengeksplorasi berbagai bau dan tekstur tanpa menggunakan kata-kata. Kedua pasangan juga bertukar peran, kemudian mendiskusikan pengalaman mereka. Contoh lain dari latihan encounter adalah di mana dua mitra duduk kembali ke belakang dan melakukan percakapan. Pasangannya kemudian memproses pengalaman berbicara tanpa isyarat visual.
d.      Behavioral Techniques
Banyak teknik behavior seperti modeling, pelatihan keterampilan, memecahkan masalah dan relaksasi juga digunakan dalam terapi kelompok. Misalnya, dalam kelompok pelatihan asertif, peserta dijelaskan situasi di mana mereka ingin menjadi lebih tegas. Peserta akan mendapatkan ide-ide untuk bagaimana menangani situasi. Situasi dapat dilatih berulang-ulang sampai peserta merasa puas dengan kemampuannya untuk berperilaku asertif.
e.       Dance and Art Therapy
teknik ini akan mendorong kesadaran tubuh, gerakan kreatif, dan interpersonal empati. Anggota kelompok berpasang-pasangan. Satu orang mengambil peran sebagai pemimpin, dan pengikutnya mencoba untuk menjadi bayangan cermin dari pemimpin, mengikuti gerakan pemimpin semirip mungkin. Mematung adalah teknik terapi seni di mana peserta diminta untuk mematung merupakan representasi dari diri mereka sendiri, keluarga mereka, dunia mereka, masalah mereka, dan kemudian menceritakan hasil dengan anggota kelompok lainnya.


Terapi Behavior (Behavior Therapy)

1.      Konsep Dasar
Terapi behavior adalah salah satu teknik yang digunakan dalam menyelesaikan tingkah laku yang ditimbulkan oleh dorongan dari dalam dan dorongan untuk memnuhi kebutuhan hidup, yang dilakukan melalui proses belajar agar bisa bertindak dan bertingkah laku lebih efektif, lalu mampu menghadapi situasi dan masalah dengan cara yang lebih efektif dan efisien.
2.      Unsur-Unsur Terapi Behavior
a.      Tujuan Terapi
Tujuan terapi behavior secara umum adalah untuk belajar menciptakan kondisi baru dengan asumsi bahwa belajar dapat memperbaiki masalah perilaku dan untuk meningkatkan kehidupan pribadi yang lebih efektif
b.      Fungsi dan Peran Terapis
- Secara sistematis berusaha untuk mendapatkan informasi tentang anteseden situasional, dimensi perilaku masalah, dan konsekuensi dari masalah.
- klarifikasi masalah klien bersama dengan klien
- merencanakan target perilaku
- memformulasikan tujuan terapi
- mengidentifikasi kondisi
- melaksanakan rencana
- evaluasi keberhasilan dari perubahan rencana
- melakukan tindak lanjut asesmen.
Fungsi lainya yang penting sebagai terapis adalah menjadi role modeling bagi klien. Salah satu proses dasar dimana klien belajar perilaku baru adalah melalui imitasi. Terapis sebagai pribadi menjadi model yang signifikan.
c.       Pengalaman Klien dalam Terapi
Klien harus termotivasi untuk berubah dan harus bersedia untuk bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan terapi, baik selama sesi terapi dan dalam kehidupan sehari-hari. Jika klien tidak termotivasi, kemungkinan tipis bahwa terapi akan berhasil. Setelah terapi behavior sukses, klien mengalami peningkatan dalam memilih untuk berperilaku dengan baik secara pribadi.
d.      Hubungan antara Terapis dan Klien
Pada terapi behavior, faktor seperti kehangatan, empati, keaslian, permisif, dan penerimaan yang diperlukan, tetapi tidak cukup untuk perubahan perilaku. Terapis behavior cenderung aktif dan direktif dan berfungsi membantu memecahkan masalah, Terapis juga harus bisa mendapatkan respect dari klien.
3.      Teknik-Teknik Terapi Behavior
Untuk mencapai tujuan dalam proses konseling diperlukan teknik-teknik yang digunakan untuk pengubahan perilaku.
a. Desensitisasi sitematis
Desensitisasi sistematis merupakan teknik relaksasi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuan secara negatif, biasanya berupa kecemasan, dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan dengan cara memberikan stimulus yang secara perlahan dan santai.
b. Terapi implosive
Terapi implosif dikembangkan atas dasar pandangan tentang seseorang yang secara berulang-ulang dihadapkan pada situasi kecemasan dan konsekuensi-konsekuensi yang menakutkan ternyata tidak muncul, maka kecemasan akan hilang. Atas dasar itu klien diminta untuk membayangkan stimulus-stimulus yang menimbulkan kecemasan.
c. Latihan perilaku asertif
Latihan perilaku asertif digunakan untuk melatih individu yang mengalami kesulitan untuk menyatakan dirinya bahwa tindakannya layak atau benar.
d.Pengkondisian aversi
Teknik pengkondisian diri digunakan untuk meredakan perilaku simptomatik dengan cara menyajikan stimulus yang tidak menyenangkan, sehingga perilaku yang tidak dikenehdaki tersebut terhambat kemunculannya.
e.Pembentukkan perilaku model
Perilaku model digunakan untuk membentuk perilaku yang sudah terbentuk dengan menunjukkan kepada klien tentang perilaku model audio, model fisik, atau lainnya yang dapat diamati dan diahami jenis perilaku yang akan dicontoh.
f. Kontrak perilaku
Kontrak perilaku adalah persetujuan antara dua orang atau lebih untuk mengubah perilaku tertentu pada klien. Dalam terapi nin konselor memberikan ganjaran positif yang penting dibandingkan memberikan hukuman jika kontrak tidak berhasil.
g. Token ekonomi
Token ekonomi dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku apabila persetujuan dan pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberikan pengaruh. Dalam token ekonomi, tingkah laku yang layak bisa diperkuat dengan perkuatan yang nyata yang nantinya bisa ditukarkan dengan objek atau hak istimewa yang diinginkan. Tujuan prosedur ini adalah mengubah motivasi yang ekstrinsik menjadi motivasi yang intrinsik. Diharapkan bahwa perolehan tingkah laku yang diinginkan akhirnya dengan sendirinya akan menjadi cukup mengganjar untuk memelihara tingkah laku yang baru.



Sumber:
Bastaman, H.D. (2007). Logoterapi “Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna”. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Corey, G. (2009). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: PT. Refika Aditama.
Gunarsa, Singgih. D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.
Gerald, Corey. (2007). Teori dan Paktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditam. 
Hayat, Abdul. (2010). Teori dan Teknik Pendekatan Konseling. Banjarmasin: Lanting Media Aksara. 
Surya, M. (2003). Teori-teori Konseling. Bandung: C.V. Pustaka  Bani Quraisy.
Suhesti. (2012). Bagaimana Konselor Sekolah Bersikap?. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 
W.S. Winkel. (2007). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: PT. Gramed

Thursday, 23 March 2017

Terapi Psikoanalisa

STUDI KASUS : Psikoanalisis

Vivi 18 tahun, kelas 2 SMA merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara. Ayahnya adalah Pilot pesawat ternama di Manado, sedangkan Ibu sudah lama meninggal , saat itu usia Vivi 4 tahun. Dia dirumah hanya tinggal dengan pembantu dan tukang kebun, karena saudaranya sudah berkeluarga dan sekarang memiliki rumah sendiri. Kejadian masa lalu membuat Vivi sering bertingkah aneh, Vivi tidak pernah mau jika satu kelompok belajar dengan laki-laki. Dan setiap melihat laki-laki dirinya merasakan ingin melemparkan sesuatu ke wajah laki-laki tersebut. Dan yang membuatnya khawatir adalah pada usia 18 tahun dirinya sama sekali belum tertarik atau simpatik kepada laki-laki.

Proses Terapi

Tujuan terapi psikoanalitik adalah membentuk kembali struktur karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari didalam diri klien. Proses terapi difokuskan pada upaya mengalami kembali pengalaman-pengalaman masa anak-anak, direkonstruksi, dibahas, dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran merekonstruksi kepribadian. Kemajuan terapeutik diawali dari pembicaraan klien ke arah katarsis.
Menggunakan asosiasi bebas suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis masa lalu, yang kemudian dikenal dengan katarsis. Kartarsis hanya menghasilkan perbedaan sementara atas pengalaman-pengalaman menyakitkan pada klien. Konseli ( V ) harus menceritakan tentang kebenciannya terhadap laki-laki. Kurangnya perhatian dari Ayahnya juga dengan menggunakan terapi transferensi. Klien tidak mendapatkan kasih sayang seorang Ibunya kepada anaknya yang pada waktu itu klien berusia 4 tahun sudah harus ditinggalkan orang tuanya, Ayahnya pergi kerja sebagai Pilot selama berbulan-bulan, Ibunya yang meninggal dunia sejak V berusia 4 tahun. Kemudian V mengalami kurangnya perhatian dan kasih sayang dari seorang Ayah sehingga menghambat kondisi emosional anak. Dalam hubungannya dengan terapis, klien mengalami kembali perasaan menolak dan membenci sebagaimana yang dulu dirasakan kepada orangtuanya. Pada terapi transferensi ini, terapis berperan sebagai Ayah sebagai pemindahan dari orangtuanya agar V merasakan mendapatkan kasih sayang dari Ibu dan Ayah.


Wednesday, 22 March 2017

Psikoterapi Tugas 1

I.                    Pengertian Psikoterapi
            Psikoterapi merupakan salah satu keterampilan dasar yang perlu dimiliki oleh seorang psikiater. Psikoterapi adalah kata yang meliputi setiap jenis terapi untuk pikiran, bukan untuk bagian tubuh yang lain. Tetapi, ketika sebagian orang mengucapkan  kata itu, biasaya yang mereka maksud adallah terapi yang digunakan oleh para psikiatris dan psikolog, bukan hal-hal yang lebih bersifat alternatif seperti misalnya terapi tertawa atau terapi musik.

-          Tujuan Psikoterapi
Menurut Ivey (dalam Gunarsa) tahun 1987 mengatakan  Tujuan psikoterapi adalah membuat sesuatu yang tidak saadar menjadi suatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakuka terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama. Di sisi lain Corey (dalam Gunarsa) tahun 1991, menjelaskan tujuan psikoterapi dengan pendekatan analisis adalah untuk membantu klien dalam menghidupkan kebali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual. Sedangkan menurut Guze, Richeimer dan Siegel (1997) menyebutkan psikoterapi sebagai berikut:
1.      Perawatan akut (intervensi krisis dan stabilisasi)
2.      Rehabilitasi (memperbaiki gangguan perilaku berat)
3.      Pemeliharaan (pencegahan keadaan memburuk jangka panjang)
4.      Restrukturisasi  eningkatkan perubahan yang terus-menerus pada klien)
-           Unsur-unsur Psikoterapi
Menurut Masserman (dalam Guze, Richeimer dan Siegel) ada tujuh “parameter pengaruh” yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi, yaitu:
  1. Peran sosial (martabat) psikoterapis
  2. Hubungan (persekutuan terapeutik)
  3. Hak
  4. Retrospreksi
  5. Re-edukasi
  6. Rehabilitasi
  7. Resosialisasi dan rekapitulasi
Unsur-unsur psikoterapeutik dapat dipilih untuk masing-masing pasien dan dimodifikasi dengan berlanjutnya terapi.

-          Perbedaan antara Psikoterapi dan Konseling
Brammer & Shostrom (dalam) mengemukakan bahwa konseling ditandai oleh adanya terminologi seperti: “educational, voational, supportive, situational, problem solving, conscious awareness, normal, present-time dan  short-term”. Sedangkan psikoterapi ditandai oleh: “supportive [dalam keadaan krisis], reconstructive, depth emphasis, analytical, focus on the past, neurotics and other severe emotional problems and long term”.
Di sisi lain Pallone dan Patterson (dalam Gunarsa) membedaka Konseling dan Psikoterapi sbb:
Konseling untuk
Psikoterapi untuk
1.      Klien
1.      Pasien
2.      Gangguan yang kurang serius
2. Gangguan yang serius
3.      Masalah: jabatan, pendidikan
3. Masalah kepribadian & pengambilan        keputusan
4.      Berhubungan dengan pencegahan
4. Berhubungan dengan penyembuhan
5.      Lingkungan pendidikan dan nonmedis
5. Lingkungan medis
6.      Berhubungan dengan kesadaran
6. Berhubungan dengan ketidak sadaran
7.      Metode pendidikan
7. Metode penyembuhan

-          Pendekatan Psikoterapi Terhadap Mental ness
Pendekatan psikoterapi terhadap mental illness menurut J.P. Chaplin, yaitu:
1.      Biological
Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin.
2.      Psychological
Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respon emosional penuh stres yang ditimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.
3.      Sosiological
Meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi sosio-budaya tertentu.
4.      Philosophic
Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yakni menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan

II. Terapi Psikoanalisis

- Konsep Dasar Teori Psikoanalisis tentang Kepribadian

1.      KESADARAN
Sigmund Freud mengemukakan bahwa kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious). Topografi atau peta kesadaran ini dipakai untuk mendiskripsi unsur cermati (awareness) dalan setiap event mental seperti berfikir dan berfantasi. Sampai dengan tahun 1920an, teori tentang konflik kejiwaan hanya melibatkan ketiga unsur kesadaran itu.
Baru pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yakni id, ego, dan superego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi melengkapi/menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi atau tujuannya (lihat representasi grafik struktur kepribadian pada Gambar 1. Enam elemen pendukung struktur kepribadian itu adalah sebagai berikut:
a)      Sadar (Conscious)
Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu. Menurut Freud, hanya sebagian kecil saja Bari kehidupan mental (fikiran, persepsi, perasaan dan ingatan) yang masuk kekesadaran (consciousness). Isi daerah sadar itu merupakan basil proses penyaringan yang diatur oleh stimulus atau cue-eksternal.
b)      Prasadar (Preconscious)
Disebut juga ingatan siap (available memory), yakni tingkat kesadaran yang menjadi jembatan antara sadar dan taksadar. Isi preconscious berasal dari conscious dan clan unconscious. Pengalaman yang ditinggal oleh perhatian, semula disadari tetapi kemudian tidak lagi dicermati, akan ditekan pindah ke daerah prasadar. Di sisi lain, isi-materi daerah tak sadar dapat muncul ke daerah prasadar. Kalau sensor sadar menangkap bahaya yang bisa timbul akibat kemunculan materi tak sadar materi itu akan ditekan kembali ke ketidaksadaran. Materi taksadar yang sudah berada di daerah prasadar itu bisa muncul kesadaran dalam bentuk simbolik, seperti mimpi, lamunan, salah ucap, dan mekanisme pertahanan diri.
c)      Tak Sadar (Unconscious)
Tak sadar adalah bagian yang paling dalam dari struktur kesadaran dan menurut Freud merupakan bagian terpenting dari jiwa manusia. Secara khusus Freud membuktikan bahwa ketidaksadaran bukanlah abstraksi hipotetik tetapi itu adalah kenyataan empirik
Ketidaksadaran itu berisi insting, impuls dan drives yang dibawa dari lahir, dan pengalaman-pengalaman traumatik (biasanya pada masa anak-anak) yang ditekan oleh kesadaran dipindah ke daerah taksadar. Isi atau materi ketidaksadaran itu memiliki kecenderungan kuat untuk bertahan terus dalam ketidaksadaran, pengaruhnya dalam mengatur tingkahlaku sangat kuat namun tetap tidak disadari.


2.      STRUKTUR KEPRIBADIAN
Sigmund Freud mengemukakan tiga struktur spesifik kepribadian yaitu Id, Ego dan Superego. Ketiga struktur tersebut diyakininya terbentuk secara mendasar pada usia tujuh tahun. Struktur ini dapat ditampilkan secara diagramatik dalam kaitannya dengan aksesibilitas bagi kesadaran atau jangkauan kesadaran individu. Id merupakan libido murni atau energi psikis yang bersifat irasional. Id merupakan sebuah keinginan yang dituntun oleh prinsip kenikmatan dan berusaha untuk memuaskan kebutuhan ini.
3.      PERKEMBANGAN PSIKOSEKSUAL
Tahap Perkembangan Psikoseksual Sigmund Freud  adalah salah satu teori yang paling terkenal, akan tetapi juga salah satu teori yang paling kontroversial. Freud percaya kepribadian yang berkembang melalui serangkaian tahapan masa kanak-kanak di mana mencari kesenangan-energi dari id menjadi fokus pada area sensitif seksual tertentu. Energi psikoseksual, atau libido , digambarkan sebagai kekuatan pendorong di belakang perilaku.Menurut Sigmund Freud, kepribadian sebagian besar dibentuk oleh usia lima tahun. Awal perkembangan berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian dan terus mempengaruhi perilaku di kemudian hari.
·         Fase Oral
Pada tahap oral, sumber utama bayi interaksi terjadi melalui mulut, sehingga perakaran dan refleks mengisap adalah sangat penting.
·         Fase Anal
Pada tahap anal, Freud percaya bahwa fokus utama dari libido adalah pada pengendalian kandung kemih dan buang air besar. Konflik utama pada tahap ini adalah pelatihan toilet – anak harus belajar untuk mengendalikan kebutuhan tubuhnya.
·         Fase Phalic
Pada tahap phallic , fokus utama dari libido adalah pada alat kelamin. Anak-anak juga menemukan perbedaan antara pria dan wanita. Freud juga percaya bahwa anak laki-laki mulai melihat ayah mereka sebagai saingan untuk ibu kasih sayang itu. Kompleks Oedipusmenggambarkan perasaan ini ingin memiliki ibu dan keinginan untuk menggantikan ayah.Namun, anak juga kekhawatiran bahwa ia akan dihukum oleh ayah untuk perasaan ini, takut Freud disebut pengebirian kecemasan. Istilah Electra kompleks telah digunakan untuk menggambarkan satu set sama perasaan yang dialami oleh gadis-gadis muda.
·         Fase Latent
Periode laten adalah saat eksplorasi di mana energi seksual tetap ada, tetapi diarahkan ke daerah lain seperti pengejaran intelektual dan interaksi sosial. Tahap ini sangat penting dalam pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi dan kepercayaan diri. Freud menggambarkan fase latens sebagai salah satu yang relatif stabil. Tidak ada organisasi baru seksualitas berkembang, dan dia tidak membayar banyak perhatian untuk itu. Untuk alasan ini, fase ini tidak selalu disebutkan dalam deskripsi teori sebagai salah satu tahap, tetapi sebagai suatu periode terpisah.
·         Fase Genital
Pada tahap akhir perkembangan psikoseksual, individu mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis. Dimana dalam tahap-tahap awal fokus hanya pada kebutuhan individu, kepentingan kesejahteraan orang lain tumbuh selama tahap ini. Jika tahap lainnya telah selesai dengan sukses, individu sekarang harus seimbang, hangat dan peduli. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menetapkan keseimbangan antara berbagai bidang kehidupan.

4.      MEKANISME PERTAHANAN EGO
1.      Represi (Repression): Bentuk pertahanan ego dengan menyingkirkan pikiran-pikiran atau ingatan-ingatan yang tidak diinginkan. Ia akan sengaja melupakan kenanganatau pikiran yang tidak menyenangkan atau tidak sesuai dengan keinginannya.
2.      Kompensasi: Yaitu dengancara menutupi kelemahan dalam dirinya dengan menonjol-nonjolkan sifat lain, lalu dicari kepuasans ecara berlebihan dalam bidang lain tersebut.
3.      Konversi (Convertion): Adalah mekanisme konflik emosional yang diekspresikan keluar. Misal :Seseorang yang sedang stress menjadi marah-marah, teriak-teriak, atau berolah raga.
4.      Penyangkalanatau Denial: Mekanisme dimana seseorang menghindari kenyataan dan secara sadar menyangkal adanya kenyataan tersebut. Ia menyangkal realita yang dapat menimbulkan rasa sakit, malu, ataucemas.
5.      Pemindahan (Displacement): Dimana emosi-emosi yang terjadi pada dirinya DILAMPIASKAN ke objek-objek atau orang lain. 
6.      Disosiasi: Dengan cara memutuskan atau mengubah beban emosi dalam dirinya.
7.      Identifikasi: dimana seseorang mempertinggi harga dirinya dengan mempolakan dirinya serupa dengan orang lain (biasanya seorang idola atau figur).
8.      Proyeksi: yaitu seseorang yang melindungi dirinya dari tabiat-tabiat, sikap, dan karakternya sendiri, atau pun perasaannya dengan melemparkan atau menyalahkannya ke orang lain.
9.      Rasionalisasi: seseorang yang mencarialasan-alasan yang dibenarkanataudapatditerimaolehnormamaupun orang lain terhadaptindakannyaataupikirannya. 
10.  PembentukanReaksi: proses dimana mengambil objek kedalam struktur egonya sendiri agar tidak menuruti keinginannya yang jelek dan diambil sikap yang sebaliknya. 
11.  Regresi: adalah keadaan seseorang yang kembali ketingkat awal menjadi kurang matang dan kurang adaptif.
12.  Sublimasi: yaitu kehendak-kehendak atau pikiran-pikiran atau tindakan-tindakan asadar yang tidak dapat diterima oleh lingkungan atau masyarakat disalurkan menjadia ktifitas yang memiliki nilai sosial yang tinggi. 

- Unsur-unsur terapi psikoanalisis
1.      Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Psikodinamik menurut Ivey, et al (1987) adalah : membuat sesuatu yang  tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
2.      Tujuan psikoterapi dengan pendekatam psikoanalisis menurut Corey (1991) dirumuslan sebagai : membuat sesuatu yag tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupakan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
3.      Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat pada peribadi, menurut Ivey, et al (1987) adalah : untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.

- Teknik-teknik terapi psikoanalisis
1.      Asosiasi Bebas
Asosiasi Bebas merupakan teknik utama dalam psikoanalisis. Terapis meminta klien agar membersihkan pikirannya dari pikiran-pikiran dan renungan-renungan sehari-hari, serta sedapat mungkin mengatakan apa saja yang muncul dan melintas dalam pikiran. Cara yang khas adalah dengan mempersilakan klien berbaring di atas balai-balai, sementara terapis duduk dibelakangnya sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat-saat asosiasinya mengalir dengan bebas.
Asosiasi bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis masa lalu, yang kemudian dikenal dengan katarsis. Kartarsis hanya menghasilkan perbedaan sementara atas pengalaman-pengalaman menyakitkan pada klien, tetapi tidak memainkan peran utama dalam proses treatment (Corey, 1995).
2.      Penafsiran (Interpretasi)
Penafsiran merupakan prosedur dasar di dalam menganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi, dan transferensi. Caranya adalah dengan tindakan-tindakan terapis untuk menyatakan, menerangkan dan mengajarkan klirn makna-makna tingkah laku apa yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi, dan hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi dari penafsiran ini adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses pengungkapan alam bawah sadar secara lebih lanjud. Penafsiran yang diberikan oleh terapis menyebabkan adanya pemahaman dan tidak terhalanginya alam bawah sadar pada diri klien. (Corey, 1995).
3.      Analisis Mimpi
Analisis Mimpi adalah prosedur atau cara yang penting untuk mengungkap alam bawah sadar dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan-pertahanan melemah, sehingga perasaan-perasaan yang direpres akan muncul kepermukaan, meski dalam bentuk lain. Freud memandang bahwa mimpi merupakan “jalan istimewa menuju ketidaksadaran”, karena melalui mimpi tersebut hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan tak sadar dapat diungkapkan. Beberapa motivasi sangat tidak dapat diterima oleh seseorang, sehingga akhirnya diungkapkan dalam bentuk yang disamarkan atau disimbolkan dalam bentuk yang berbeda.
Mimpi memiliki dua taraf, yaitu isi laten dan isi manifes. Isi laten terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik, dan tidak disadari. Karena begitu menyakitkan dan mengancam, maka dorongan-dorongan seksual dan perilaku agresif tak sadar (yang merupakan isi laten) ditransformasikan ke dalam isi manifes yang lebih dapat diterima, yaitu impian yang tampil pada si pemimpi sebagaimana adanya. Sementara tugas terapis adalah mengungkapkan makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol yang terdapat dalam isi manifes. Di dalam proses terapi, terapis juga dapat meminta klien untuk mengasosiasikan secara bebas sejumlah aspek isi manifes impian untuk mengungkapkan makna-makna yang terselubung (Corey, 1995).
4.      Resistesi
Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas dan analisis mimpi, klien dapat menunjukkan ketidaksediaan untuk menghubungkan pikiran, perasaan, dan pengalaman tertentu. Freud memandang bahwa resistensi dianggap sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan atau perasaan yang direpres tersebut. Dalam proses terapi, resistensi bukanlah sesuatu yang harus diatasi, karena merupakan perwujudan dari pertahanan klien yang biasanya dilakukan sehari-hari. Resistensi ini dapat dilihat sebagai sarana untuk bertahan klien terhadap kecemasan, meski sebenarnya menghambat kemampuannya untuk menghadapi hidup yang lebih memuaskan (Corey, 1995).
5.      Transferensi
Resistensi dan Transferensi merupakan dua hal inti dalam terapi psikoanalisis. Transferensi dalam keadaan normal adalah pemindahan emosi dari satu objek ke objek lainnya, atau secara lebih khusus pemindahan emosi dari orangtua kepada terapis. Dalam keadaan neurosis, merupakan pemuasan libido klien yang diperoleh melalui mekanisme pengganti atau lewat kasih sayang yang melekat dan kasih sayang pengganti. Seperti ketika klien menjadi lekat dan jatuh cinta pada terapis sebagai pemindahan dari orangtuanya (Chaplin, 1995). Transferensi mengejawantah ketika dalam proses terapi “urusan yang tidak selesai” (unfinished business) masa lalu klien dengan orang-orang yang dianggap berpengaruh menyebabkan klien mendistorsi dan bereaksi terhadap terapis sebagaimana dia bereaksi terhadap ayah/ibunya. Dalam hubungannya dengan terapis, klien mengalami kembali perasaan menolak dan membenci sebagaimana yang dulu dirasakan kepada orangtuanya. Tugas terapis adalah membangkitkan neurosis transferensi klien dengan kenetralan, objektivitas, keanoniman dan kepasifan yang relatif. Dengan cara ini, maka diharapkan klien dapat menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi dan memungkinan klien mampu memperoleh pemahaman dan sifat-sifat dari fiksasi-fiksasi, konflik-konflik atau deprivasi-deprivasinya, serta mengatakan kepada klien suatu pemahaman mengenai pengaruh masa lalu terhadap kehidupannya saat ini (Corey, 1995)

III.           Terapi Humanistik

-          Konsep Dasar Pandangan Humanistik tentang Kepribadian
Banyak sekali teori yang mengemukakan tentang kepribadian, akan tetapi dalam pembahasan makalah ini hanya akan membahas mengenai teori kepribadian Humanistic, Maslow, Dan Kelly. Dalam pandangan Humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka. Aliran Humanistik menyumbangkan arah yang positif dan optimis bagi pengembangan potensi manusia, disebut sebagai yang mengembalikan hakikat psikologi sebagai ilmu tentang manusia. Maslow menekankan bahwa individu merupakan kesatuan yang terpadu dan terorganisasi. Kelly meyakini bahwa tidak ada kebenaran yang objektif dan kebenaran yang mutlak absolut.
Teori humanistik berkembang sejak tahun 1950-an sebagai teori yang menentang teori-teori psikoanalisis dan behavioristik. Serangan humanistik terhadap dua teori ini, adalah bahwa kedua-duanya bersifat “dehumanizing” (melecehkan nilai-nilai manusia). Teori freud di kritik, karena memandang tingkah laku manusia didominasi atau ditentukan oleh dorongan yang bersifat primitif, dan animalistik (hewani). Sementara behavioristik dikritik, karena teori ini terlalu asyik denagn penelitiannya terhadap binatang, dan memganalisis kepribadian secara pragmentaris. Kedua teori ini dikritik, karena memandang manusia sebagai bidak atau pion yang tak berdya dikontrol oleh lingkungan dan masa lalu, dan sedikit sekali kemampuan untuk mengarahkan diri.
Teori humanistik dipandang sebagai “third force” (kekuatan ketiga) dalam psikologi, dan merupakan alternatif dari kedua kekuatan yang dewasa ini dominan (psikoanlisis dan behavioristik). Kekuatan ketiga ini disebut humanistik karena memiliki minat yang eksklusif terhadap tingkah laku manusia. Humanistik dapat diartikan sebagai “Orientasi eoritis yang menekankan kualitas manusia yang unik, khususnya terkait dengan free will (kemauan bebas) dan potensi untuk mengembangkan dirinya.

- Unsur-Unsur Terapi

1. Munculnya Gangguan
Model humanistik kepribadian, psikopatologi, dan psikoterapi awalnya menarik sebagian besar konsep-konsep dari filsafat eksistensial, menekankan kebebasan bawaan manusia untuk memilih, bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan hidup sangat banyak pada saat ini. Hidup sehat di sini dan sekarang menghadapkan kita dengan realitas eksistensial menjadi, kebebasan, tanggung jawab, dan pilihan, serta merenungkan eksistensi yang pada gilirannya memaksa kita untuk menghadapi kemungkinan pernah hadir ketiadaan. Pencarian makna dalam kehidupan masing-masing individu adalah tujuan utama dan aspirasi tertinggi. Pendekatan humanistik kontemporer psikoterapi berasal dari tiga sekolah pemikiran yang muncul pada 1950-an, eksistensial, Gestalt, dan klien berpusat terapi.

2. Tujuan Terapi
Pada dasarnya, tujuan terapi eksistensial adalah:
a) Meluaskan kesadaran diri klien.
b) Meningkatkan kesanggupan pilihannya
.
3. Peran Terapis
Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikoterapi Humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut :
ü Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi
ü Menyadari peran dan tanggung jawab terapis
ü Mengakui sifat timbale balik dari hubungan terapeutik.
ü Berorientasi pada pertumbuhan
ü Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.
ü Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tangan klien.
ü Memandang terapis sebagai model, bisa secara implicit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
ü Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandagan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
ü Bekerja kea rah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.

- Teknik-teknik terapi Humanistik
Kedudukan teknik adalah nomor dua dalam hal menciptakan hubungan yang akan bisa membuat konselor bisa secara efektif menantang dan memahami klien. Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu:
1. Penerimaan
2. Rasa hormat
3. Memahami
4. Menentramkan
5. Memberi dorongan
6. Pertanyaan terbatas
7. Memantulkan pernyataan dan perasaan klien
8. Menunjukan sikap yang mencerminkan ikut mersakan apa yang dirasakan klien
9. Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna.


IV. Person Centered Therapy (ROGERS)
- Konsep Dasar Pandangan Rogers tentang Kepribadian
1.      Pengalaman
Pengalaman mengacu pada dunia pribadi individu. Setiap saat, sebagian dari hal ini terkait akan kesadaran. Misalnya, kita merasakan tekanan pena terhadap jari – jari kita seperti yang kita tulis. Beberapa mungkin sulit untuk membawa ke dalam kesadaran, seperti ide, “Aku orang yang agresif”. Sementara kesadaran masyarakat yang sebenarnya dari total lapangan pengalaman mereka mungkin terbatas, setiap individu adalah satu – satunya yang bisa tahu itu seluruhnya.
2.      Realitas
Untuk tujuan psikologis, realitas pada dasarnya adalah dunia pribadi dari persepsi individu, meskipun untuk tujuan sosial realitas terdiri dari orang – orang yang memiliki persepsi tingkat tinggi kesamaan antara berbagai individu. Dua orang akan setuju pada kenyataan bahwa orang tertentu adalah politisi. Satu melihat dirinya sebagai seorang wanita baik yang ingin membantu orang dan berdasarkan kenyataan orang menilai untuk dirinya. Kenyataannya orang lain adalah bahwa politisi menyisihkan uang untuk rakyat dalam memiliki tujuan untuk memenangi hati dari rakyat. Oleh karena itu orang ini memberi suara padanya (wanita). Dalam terapi, di sebut sebagai merubah perasaan dan merubah persepsi.
3.      Organisme Bereaksi sebagai Terorganisir yang utuh
Seseorang mungkin lapar, tetapi karena harus menyelesaikan laporan. Maka, orang tersebut akan melewatkan makan siang. Dalam psikoterapi, klien sering menjadi lebih jelas tentang apa yang lebih penting bagi mereka. Sehingga perubahan perilaku di arahkan dalam tujuan untuk di klasifikasikan. Seorang politisi dapat memutuskan untuk tidak mrncalonkan diri untuk mendapatkan jabatan karena ia memutuskan bahwa kehidupan keluarganya lebih penting dari pada mencalonkan diri sebagai pejabat.
4.      Organisme mengaktualisasi kecenderungan (The Organism Actualizing Tendency)
Ini adalah prinsip utama dalam tulisan – tulisan dari Kurt Goldstein, Hobart Mowrer, Harry Stack Sullivan, Karen Horney, dan Andras Angyai. Untuk nama hanya beberapa. Perjuangan untuk mengajarkan anak dalam belajar jalan adalah sebuah contoh. Ini adalah keyakinan Rogers dan keyakinan sebagaian besar teori kepribadian yang lain. Di beri pilihan bebas dan tidak adanya kekuatan eksternal. Individu lebih memilih untuk menjadi sehat daripada sakit, untuk menjadi independen dari pada bergantung. Dan secara umum untuk mendorong pengembangan optimal dari organisme total.
5.      Frame Internal Referensi
Ini adalah bidang persepsi individu. Ini adalah cara dunia muncul dan sebuah makna yang melekat pada pengalaman dan melibatkan perasaaan. Dari titik orang memiliki pusat pandangan. Kerangka acuan internal memberikan pemahamana sepenuhnya tentang mengapa orang berperilaku seperti yang mereka lakukan. Hal ini harus di bedakan dari penilaian eksternal perilaku, sikap, dan kepribadian.
6.      Konsep Diri
Istilah – istilah mengacu pada gesalt, terorganisir konsisten, konseptual terdiri dari persepsi karakteristik “I” atau “saya” dan persepsi tentang hubungan dari “I” atau “Aku” kepada orang lain dan berbagai aspek kehidupan, bersama dengan nilai – nilai yang melekat pada persepsi ini. Menurut Gesalt kesadaran merupakan cairan dan proses perubahan.
7.      Symbolization
Ini adalah proses di mana individu menjadi sadar. Ada kecenderungan untuk menolak simbolisasi untuk pengalaman berbeda dengan konsep dirinya. Misalnya, orang – orang menganggap dirinya benar akan cenderung menolak simbolisasi tindakan berbohong. Pengalaman ambigu cenderung di lambangkan dengan cara yang konsisten dengan konsep diri. Seorang pembicara kurang percaya diri dapat di lambangkan khalayak diam sebagai terkesan, orang yang percaya diri dapat melambangkan sebuah kelompok yang penuh perhatian dan tertarik.
8.      Penyesuaian Psikologis & Ketidakmampuan Menyesuaikan diri
Hal ini mengacu pada konsistensi, atau kurangnya konsistensi, antara pengalaman individu sensorik dan konsep diri. Sebuah konsep diri yang mencakup unsur – unsur kelemahan dan ketidaksempurnaan memfasilitasi simbolisasi dari pengalaman kegagalan. Kebutuhan untuk menolak atau mendistorsi pengalaman seperti tidak ada dan karena itu menumbuhkan kondisi penyesuaian psikologis.
9.      Organismic Valuing Process
Ini adalah proses yang berkelanjutan di mana individu bebas bergantung pada bukti indra mereka sendiri untuk membuat penilaian. Hal ini yang berbeda dengan sistem fixed menilai intrijected di tandai dengan “kewajiban” dan “keharusan” dan juga dengan apa yang seharusnya benar / salah. Proses menilai organismic konsisten dengan hipotesis.
10.  The Fully Functioning Person
Rogers mendefinisikan mereka yang bergantung pada Organismic valuing process seperti Fully functioning person. Dapat mengalami semua perasaan mereka, ketakutan, memungkinkan kesadaran bergerak bebas di dalam pikiran mereka dan melalui pengalaman mereka.

- Uunsur-unsur Terapi PERSON CENTERED THERAPY
1.      Peran Terapis
Menurut Rogers, peran terapis bersifat holistik, berakar pada cara mereka berada dan sikap – sikap mereka, tidak pada teknik – teknik yang di rancang agar klien melakukan sesuatu. Penelitian menunjukkan bahwa sikap – sikap terapislah yang memfasilitasi perubahan pada klien dan bukan pengetahuan, teori, atau teknik – teknik yang mereka miliki. Terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai instrument perubahan. Fungsi mereka menciptakan iklim terapeutik yang membantu klien untuk tumbuh. Rogers, juga menulis tentang I-Thou. Terapis menyadari bahasa verbal dan nonverbal klien dan merefleksikannya kembali. Terapis dan klien tidak tahu kemana sesi akan terarah dan sasaran apa yang akan di capai. Terapis percaya bahwa klien akan mengembangkan agenda mengenai apa yang ingin di capainya. Terapis hanya fasilitator dan kesabaran adalah esensial.
2.      Tujuan Terapis
Rogers berpendapat bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan – tujuan atau nilai – nilai yang di milikinya pada pasien. Fokus dari terapi adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin atau mengarahkan jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan – perasaan yang di ungkapkan oleh pasien untuk membantunya berhubungan dengan perasaan – perasaanya yang lebih dalam dan bagian – bagian dari dirinya yang tidak di akui karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau menguraikan dengan kata – kata pa yang di ungkapkan pasien tanpa memberi penilaian.

-         Teknik-teknik PERSON CENTERED THERAPY
Untuk terapis person – centered, kualitas hubungan terapis jauh lebih penting daripada teknik. Rogers, percaya bahwa ada tiga kondisi yang perlu dan sudah cukup terapi, yaitu :
1. Empathy
2. Positive Regard (acceptance)
3. Congruence


Sumber : 
Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Aditama
Corsini, R. (2000). CURRENT PSYCHOTHERAPIES. Itasca , Illinois: F.E. PeacockPublishers.
Gunarsa, Singgih D. 1996. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Murad, J. (2006). Dasar – Dasar Konseling. Jakarta: Universitas Indonesia.
Semiun, Y. (2010). Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius.