Friday, 21 April 2017

Contoh kasus dan penerapan Logoterapi

Contoh kasus dan penerapan logoterapi
Keke adalah seorang wanita berusia 25 tahun. Keke mempunyai suatu fobia dengan seekor laba-laba Awal mula fobia pada si Keke adalah ketika dia berusia 5 tahun, Keke duduk di bawah pohon rindang dan saat itu pula laba-laba yang berada di pohon tersebut jatuh tepat di atas tangannya, Keke yang kaget langsung berlari menghampiri ibunya sambil menangis ketaakutan. Sejak saat itu Keke tidak berani lagi dengan seekor laba-laba atau sekedar duduk-duduk santai di bawah pohon. Ketika laba-laba melihat laba-laba secara langsung Keke menjerit histeris dan berlari menghindari tempat laba-laba itu berada, namun jika laba-laba melihat ulat berupa gambar A merasa geli atau pun melihatnya di tv.

Analisis kasus
Tahapan Tahapan dalam dalam logoterapi
Tahapan pertama adalah perkenalan denagn membangun raport. Raport adalah sesuatu yang penting dalam proses konseling atau terapi , karena raport itu berfungsi untuk membangun suasana yang nyaman serta membuat klien agar tidak tegang pada saat konseling atau terapi.
Tahapan yang kedua adalah tahap pengakuan atau pengungkapan masalah yang di hadapi klien terhadap konselor. Pada tahap ini konselor bertugas untuk mengarahkan klien untuk dapat mengungkapkan masalahnya tanpa keluar dari tema atau topic pembicaraan, jadi lebih terarah dan terstruktur.
Tahap selaanjutnya adalah pembahasan serta menyamakan suatu persepsi atau pemikiran antara konselor dan  klien.
Dan selanjutnya itu adalah tahapan evaluasi yaitu menyimpulkan suatu masalah klien dari informasi yang telah di peroleh kemudian di interpretasi untuk kemudian berlanjut ke teknik terapi selanjutnya yaitu yang bertujuan untuk mengubah sikap atau perilaku klien yang di anggap bermasalah.

Pada contoh kasus diatas dapat di simpulkan bahwa Keke mengalami fobia pada seekor laba-laba. Untuk cara penangannya menggunakan Logoterapi dengan teknik intensi paraadoksikal yang di kemukakan oleh frankl. Mengapa ? karena pada teknik ini membahas suatu fenomena ataau suatu kecamasan yang di alami oleh klien serta membatu klien untuk dapat menurunkan kecemasannya pada sesuatu yang ia takuti.

Paradoxical intention pada dasarnya memanfaatkan kemampuan mengambil jarak (self-detachment) dan kemampuan mengambil sikap terhadap kondisi diri sendiri dan lingkungan.Paradoxical intention terutama cocok untuk pengobatan jangka pendek pasien fobia (ketakutan irrasional). Pada teknik ini konselor bertugas untuk membuat sikap Keka dari takut menjadi akrab pada hal yang Keke takuti atau cemaskan. Pada teknik Keke di minta untuk  beruasaha menghindari atau melawan ketakutannya terhadap seekor laba-laba tersebut. Mengubah persepsinya yang awal nya takut menjadi berani. Salah satu cara yang dapat di lakukan oleh Keke bisa dengan mengajak ulat tersebut bercanda untuk menurunkan kadar kecemasan yang di alami Keke untk kemudian sikap Keke menjadi berani dan tidak takut lagi dengan seekor Laba-laba tersebut. Tahap ini harus di lakukakan bertahap dan rutin hingga kecemasan yang ada pada diri Keke berkurang atau bahkan dapat hilang.


No comments:

Post a Comment