Contoh kasus dan penerapan logoterapi
Keke adalah seorang wanita berusia 25 tahun. Keke mempunyai
suatu fobia dengan seekor laba-laba Awal mula fobia pada si Keke adalah ketika
dia berusia 5 tahun, Keke duduk di bawah pohon rindang dan saat itu pula laba-laba
yang berada di pohon tersebut jatuh tepat di atas tangannya, Keke yang kaget
langsung berlari menghampiri ibunya sambil menangis ketaakutan. Sejak saat itu Keke
tidak berani lagi dengan seekor laba-laba atau sekedar duduk-duduk santai di
bawah pohon. Ketika laba-laba melihat laba-laba secara langsung Keke menjerit
histeris dan berlari menghindari tempat laba-laba itu berada, namun jika laba-laba
melihat ulat berupa gambar A merasa geli atau pun melihatnya di tv.
Analisis kasus
Tahapan Tahapan dalam dalam logoterapi
Tahapan pertama adalah perkenalan denagn membangun raport.
Raport adalah sesuatu yang penting dalam proses konseling atau terapi , karena
raport itu berfungsi untuk membangun suasana yang nyaman serta membuat klien
agar tidak tegang pada saat konseling atau terapi.
Tahapan yang kedua adalah tahap pengakuan atau pengungkapan
masalah yang di hadapi klien terhadap konselor. Pada tahap ini konselor
bertugas untuk mengarahkan klien untuk dapat mengungkapkan masalahnya tanpa
keluar dari tema atau topic pembicaraan, jadi lebih terarah dan terstruktur.
Tahap selaanjutnya adalah pembahasan serta menyamakan suatu
persepsi atau pemikiran antara konselor dan klien.
Dan selanjutnya itu adalah tahapan evaluasi yaitu
menyimpulkan suatu masalah klien dari informasi yang telah di peroleh kemudian
di interpretasi untuk kemudian berlanjut ke teknik terapi selanjutnya yaitu
yang bertujuan untuk mengubah sikap atau perilaku klien yang di anggap
bermasalah.
Pada contoh kasus diatas dapat di simpulkan bahwa Keke
mengalami fobia pada seekor laba-laba. Untuk cara penangannya menggunakan
Logoterapi dengan teknik intensi paraadoksikal yang di kemukakan oleh frankl.
Mengapa ? karena pada teknik ini membahas suatu fenomena ataau suatu kecamasan
yang di alami oleh klien serta membatu klien untuk dapat menurunkan
kecemasannya pada sesuatu yang ia takuti.
Paradoxical intention pada dasarnya memanfaatkan kemampuan
mengambil jarak (self-detachment) dan kemampuan mengambil sikap terhadap
kondisi diri sendiri dan lingkungan.Paradoxical intention terutama cocok untuk
pengobatan jangka pendek pasien fobia (ketakutan irrasional). Pada teknik
ini konselor bertugas untuk membuat sikap Keka dari takut menjadi akrab pada
hal yang Keke takuti atau cemaskan. Pada teknik Keke di minta untuk
beruasaha menghindari atau melawan ketakutannya terhadap seekor laba-laba
tersebut. Mengubah persepsinya yang awal nya takut menjadi berani. Salah satu
cara yang dapat di lakukan oleh Keke bisa dengan mengajak ulat tersebut
bercanda untuk menurunkan kadar kecemasan yang di alami Keke untk kemudian
sikap Keke menjadi berani dan tidak takut lagi dengan seekor Laba-laba
tersebut. Tahap ini harus di lakukakan bertahap dan rutin hingga kecemasan yang
ada pada diri Keke berkurang atau bahkan dapat hilang.
No comments:
Post a Comment