Thursday, 23 March 2017

Terapi Psikoanalisa

STUDI KASUS : Psikoanalisis

Vivi 18 tahun, kelas 2 SMA merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara. Ayahnya adalah Pilot pesawat ternama di Manado, sedangkan Ibu sudah lama meninggal , saat itu usia Vivi 4 tahun. Dia dirumah hanya tinggal dengan pembantu dan tukang kebun, karena saudaranya sudah berkeluarga dan sekarang memiliki rumah sendiri. Kejadian masa lalu membuat Vivi sering bertingkah aneh, Vivi tidak pernah mau jika satu kelompok belajar dengan laki-laki. Dan setiap melihat laki-laki dirinya merasakan ingin melemparkan sesuatu ke wajah laki-laki tersebut. Dan yang membuatnya khawatir adalah pada usia 18 tahun dirinya sama sekali belum tertarik atau simpatik kepada laki-laki.

Proses Terapi

Tujuan terapi psikoanalitik adalah membentuk kembali struktur karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari didalam diri klien. Proses terapi difokuskan pada upaya mengalami kembali pengalaman-pengalaman masa anak-anak, direkonstruksi, dibahas, dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran merekonstruksi kepribadian. Kemajuan terapeutik diawali dari pembicaraan klien ke arah katarsis.
Menggunakan asosiasi bebas suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis masa lalu, yang kemudian dikenal dengan katarsis. Kartarsis hanya menghasilkan perbedaan sementara atas pengalaman-pengalaman menyakitkan pada klien. Konseli ( V ) harus menceritakan tentang kebenciannya terhadap laki-laki. Kurangnya perhatian dari Ayahnya juga dengan menggunakan terapi transferensi. Klien tidak mendapatkan kasih sayang seorang Ibunya kepada anaknya yang pada waktu itu klien berusia 4 tahun sudah harus ditinggalkan orang tuanya, Ayahnya pergi kerja sebagai Pilot selama berbulan-bulan, Ibunya yang meninggal dunia sejak V berusia 4 tahun. Kemudian V mengalami kurangnya perhatian dan kasih sayang dari seorang Ayah sehingga menghambat kondisi emosional anak. Dalam hubungannya dengan terapis, klien mengalami kembali perasaan menolak dan membenci sebagaimana yang dulu dirasakan kepada orangtuanya. Pada terapi transferensi ini, terapis berperan sebagai Ayah sebagai pemindahan dari orangtuanya agar V merasakan mendapatkan kasih sayang dari Ibu dan Ayah.


No comments:

Post a Comment