STUDI KASUS : Psikoanalisis
Vivi 18 tahun, kelas 2 SMA merupakan anak bungsu dari 3
bersaudara. Ayahnya adalah Pilot pesawat ternama di Manado, sedangkan Ibu sudah
lama meninggal , saat itu usia Vivi 4 tahun. Dia dirumah hanya tinggal dengan
pembantu dan tukang kebun, karena saudaranya sudah berkeluarga dan sekarang
memiliki rumah sendiri. Kejadian masa lalu membuat Vivi sering bertingkah aneh,
Vivi tidak pernah mau jika satu kelompok belajar dengan laki-laki. Dan setiap
melihat laki-laki dirinya merasakan ingin melemparkan sesuatu ke wajah laki-laki
tersebut. Dan yang membuatnya khawatir adalah pada usia 18 tahun dirinya sama
sekali belum tertarik atau simpatik kepada laki-laki.
Proses Terapi
Tujuan terapi psikoanalitik adalah membentuk kembali struktur
karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari didalam
diri klien. Proses terapi difokuskan pada upaya mengalami kembali
pengalaman-pengalaman masa anak-anak, direkonstruksi, dibahas, dianalisis, dan
ditafsirkan dengan sasaran merekonstruksi kepribadian. Kemajuan terapeutik
diawali dari pembicaraan klien ke arah katarsis.
Menggunakan asosiasi bebas suatu metode pemanggilan kembali
pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan
dengan situasi traumatis masa lalu, yang kemudian dikenal dengan katarsis.
Kartarsis hanya menghasilkan perbedaan sementara atas pengalaman-pengalaman menyakitkan
pada klien. Konseli ( V ) harus menceritakan tentang kebenciannya terhadap laki-laki.
Kurangnya perhatian dari Ayahnya juga dengan menggunakan terapi transferensi. Klien
tidak mendapatkan kasih sayang seorang Ibunya kepada anaknya yang pada waktu
itu klien berusia 4 tahun sudah harus ditinggalkan orang tuanya, Ayahnya pergi
kerja sebagai Pilot selama berbulan-bulan, Ibunya yang meninggal dunia sejak V
berusia 4 tahun. Kemudian V mengalami kurangnya perhatian dan kasih sayang dari
seorang Ayah sehingga menghambat kondisi emosional anak. Dalam hubungannya
dengan terapis, klien mengalami kembali perasaan menolak dan membenci
sebagaimana yang dulu dirasakan kepada orangtuanya. Pada terapi transferensi
ini, terapis berperan sebagai Ayah sebagai pemindahan dari orangtuanya agar V
merasakan mendapatkan kasih sayang dari Ibu dan Ayah.
No comments:
Post a Comment