Belajar
Dan Mengajar Kreatif
Belajar
dan mengajar itulah proses yang dilakukan dalam dunia pendidikan. Hal ini bisa
diuraikan menjadi 2 aspek:
1.Belajar
Berarti hal ini ditujukan untuk
kepada siswa. Karena subjek yang melakukan belajar adalah siswa/murid/mahasiswa.
Belajar memang kegiatan yang dilakukan tanpa mengenal tepat, orang, ataupun
waktu. Maka ada istilah belajar bisa dimana saja, oleh siapa saja, dan kapan
saja. Jadi belajar sebenarnya tidak bisa diartikan secara sempit hanya untuk murid
atau siswa atau mahasiswa saja.
2.Mengajar
Berarti kata ‘mengajar’ mengarah
kepada sosok pengajar, yaitu guru/dosen. Orang yang dipercaya untuk bisa
‘memberi pelajaran’ kepada muridnya, membagikan ilmu yang didapat kepada anak
didiknya. Inilah tugas mulia dari para pengajar, yang harus diakui bahwa ini
tidaklah mudah.
I.Arti
Belajar Kreatif
A.Pengertian
belajar kreatif
Kreativitas belajar terdiri dari dua
kata yaitu kreativitas dan belajar, dalam pengertian kreativitas beberapa ahli
berpendapat dengan berdasarkan latar belakang dan kebudayaan yang
berbeda-beda,diantaranya sebagai berikut : James R. Evans mendefinisikan
kreativitas sebagai ketrampilan untuk menentukan pertalian baru, melihat subyek
dari perspektif baru dan membentuk kombinasi-kombinasi baru dari dua atau lebih
konsep yang telah tercetak dalam pikiran.
1.Kreativitas
memerlukan adanya modal, yaitu konsep dalam pikiran untuk dilahirkan kembali
dalam bentuk yang berbeda. Dalam pemecahan masalah, dia tidak harus mencari
jawaban baru tetapi dia hanya perlu menggali informasi-informasi dalam
pikirannya untuk dikaitkan dan dituangkan dalam bentuk solusi terhadap problem
tersebut. Sedangkan Rogers menekankan bahwa sumber dari kreativitas adalah
kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk
berkembang, dan menjadi matang, kecenderungan untuk mengekspresikan dan
mengaktifkan semua kemampuan organisme.
2.Kreativitas
dapat dinilai ketika hal tersebut tertuang dalam suatu tindakan nyata, ketika
pemikiran baru belum dituangkan, maka itu adalah proses menuju kreativitas.
Jadi, kreativitas tetaplah berpusat di otak manusia, kreativitas terjadi karena
keseluruhan bagian otak bekerja secara bersamaan, terpadu pada satu waktu
tertentu dengan tetap melakukan spesialisasi masing-masing, otak dengan sigap
menanggapi setiap informasi yang masuk. Kadar pengelolaan otak akan sangat
menentukan tingkat kreativitas seseorang, karena itu otak harus dilatih, tidak
hanya dengan makanan bergizi tapi dengan latihan berfikir yang terus-menerus.
3.Untuk
dapat melahirkan kreativitas, seseorang harus dapat memanfaatkan kedua sifat
otak (kiri dan kreativitas kanan). Otak kiri yang bersifat logika, berurutan,
lisan, pertambahan, dan dominan. Sedangkan otak kanan bersifat emosi, lompatan,
visual, menyeluruh, dan tersembunyi. Akhir-akhir ini, istilah otak kanan telah
digunakan sebagai cara popular untuk menyatakan kreatif, artistik, dan rapi.
4.Kreativitas
muncul dari interaksi yang luar biasa antara kedua otak. Kreativitas adalah
suatu ketrampilan.
5.Dikarenakan
kreativitas merupakan hasil sebuah latihan maka harus diupayakan secara terus-
menerus agar tidak menjadi lumpuh.
6.Artinya,
siapa saja yang berniat untuk menjadi kreatif dan ia mau melakukan
latihan-latihan yang benar, maka ia akan menjadi kreatif.
Dari pengertian adalah hasil sebuah
latihan yang unik, berbeda, dan lebih baik serta bermanfaat. Sedangkan belajar
diartikan sebagai suatu proses usaha yangdilakukan individu untuk memperoleh
tingkah laku baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu
sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.
Belajar mengandung pengertian
terjadinya perubahan persepsi dan tingkah laku, termasuk juga perubahan
perilaku. Lingkungan belajar merupakan faktor penting dalam pendidikan, yaitu
guru dan orang tua yang dapat membantu dalam prose belajar, yang akan dapat
membentuk lingkungan pembelajaran. Jadi, kreativitas belajar adalah suatu
keterampilan yang dihasilkan dari sebuah latihan- latihan (proses pembelajaran)
yang diupayakan terus menerus agar tidak menjadi lumpuh.
B.Liputan
proses belajar kreatif
Beberapa hal yang perlu diperhatikan
oleh seorang guru yang professional dalam menyusun program pembelajaran yang
dapat meningkatkan kreativitas siswa
dalam belajar yaitu:
a.Menciptakan
lingkungan di dalam kelas yang merangsang belajar kreatif
·Memberikan
Pemanasan
Sebelum memulai dengan kegiatan yang
menuntut prilaku kreatif siswa sesuai dengan rencana pelajaran lebih dahulu
diusahakan sikap menerima (reseptif) di Kalangan siswa, terutama berlaku
apabila siswa sebelumnya baru saja terlibat dalam suatu penguasaan yang
berstruktur, mengerjakan soal fiqih, tugas atau kegiatan, bertujuan
meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap belajar yang berbeda lebih
terbuka dan tertantang berperanserta secara aktif dengan memberikan
gagasan-gagasan sebanyak mungkin untuk itu diberikan pemanasan yang dapat tercapai dengan
memberikan pertanyaan pertanyaan terbuka dengan menimbulkan minat dan rasa
ingin tahu siswa.
·Pengaturan
Fisik
Membagi siswa dalam kelompok untuk
mengadakan diskusi kelompok.
·Kesibukan
Dalam Kelak
kegiatan belajar secara kreatif
sering menuntut lebih banyak kegiatan fisik, dan diskusi antara siswa oleh
karena itu guru hendaknya agak tenggang rasa dan luwes dalam menuntut ketenangan
dan sebagai siswa tetap duduk pada tempatnya. Guru harus dapat membedakan
kesibukan yang asyik serta suara-suara yang produktif yang menunjukkan bahwa
siswa bersibuk diri secara kreatif.
·Guru
sebagai Fasilitator
Guru dan anak yang berbakat lebih
berperan sebagai fasilitator dari pada sebagai pengarah yang menentukan segalanya
bagi siswa. Sebagai fasilitator guru mendorong siswa (memotivator) untuk
menggabungkan inisiatif dalam menjajaki tugas-tugas baru. Guru harus terbuka
menerima gagasan dari semua siswa dan gur harus dapat menghilangkan ketakutan,
kecemasan siswa yang dapt menghambat dan pemecahan masalah secara keatif
(Munandar, 1992 : 78-81).
b.Mengajukan
dan mengundang pertanyaan
Dalam proses belajar mengjar,
diperlukan keterampilan guru baik dalam mengajukan pertanyaan kepada siswa
maupun dalam mengundang siswa untuk bertanya.
·Tehnik
Bertanya
Pertanyaan yang merangsang pemikiran
kreatif adalah pertanyaan semacam divergen atau terbuka. Pertanyaan semacam ini
membantu siswa mengembangkan keterampilan mengumpulkan fakta, merumuskan
hipotesis, dan menguji atau menilai informasi mereka.
Dengan
mengajukan pertanyaan, guru memperoleh informasi yang berharga dan berguna
untuk :
1.Menimbulkan
minat dan motivasi siswa untuk berperan serta aktif.
2.Menilai
persiapan siswa dan sejauh mana siswa telah menguasai bahan yang diberikan
sebelumnya.
3.Mengulang
kembali dan meringkas apa yang telah diajarkan.
4.Membantu
siswa melihat hubungan-hubungan baru.
5.Merangsang
pemikiran kritis dan pengembangan sikap bertanya
6.Merangsang
siswa untuk mencari sendiri pengetahuan tambahan
7.Menilai
pencapaian tujuan dan sasaran belajar (Munandar, 1999 : 84)
·Metode
Diskusi
Dalam metode dikusi, peran guru
dangat menentukan keberhasilan, guru berperan sebagai fasilitator yang
mengenalkan masalah kepada siwa dan memberikan informasi seperlunya yang mereka
butuhkan unutk membahas masalah. Guru memang diperlukan misalnya jika timbul
kemacetan dalam diskusi atau untuk menghindari kesalahan yang tersembunyi agar
siswa tidak terlalu menyimpang dari arah yang dituju.
·Metode
Inquiri-Discovery
Pendekatan inquiry (pengajuan
pertanyaan, penyelidikan) dan discovery (penemuan) dalam belajar penting dalam
proses pemecahan masalah. Ada tiga tahap dalam proses pemecahan masalah melalui
inquiry, pertama adanya kesadaran bahwa ada masalah. Hal ini merupakan factor
yang memotivasi siswa untuk melanjutkan dengan
merumuskan masalah (tahap kedua),
pada tahap ini masalah dirumuskan dan timbul gagasan-gagasan sebagai strategi
kemungkinan pemecahan. Melalui inquiry informasi mengenai masalah dihimpun.
Tahap ketiga adalah mencari atau
menjajaki (searching). Pada tahap pertanyaan dan informasi dihubungkan
dengan perumusan hipotesis.
Keativitas
berkaitan erat dengan proses perumusan hipotesis, yaitu dalam mengajukan
pertnayaan dan hipotesis dalam mneghubungakan fakta yang diketahui dan
asas-asas untuk mengembangkan strategi pemecahan, serta harus memperinci dan
merumuskan kebutuhan dalammencari informasi, jadi, semua proses berfikir :
kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), orisinilitas, dan pemerincian
(elaborasi) temasuk dalam prosess pemecahan masalah melalui inquiry-discovery.
Pokok-pokok yang harus dipenuhi oleh guru dalam
pengalaman belajar inquiry adalah :
1.Berilah
pengalaman permulaan untuk menarik minat siswa agar menanyakan mengenai suatu
masalah, konsep, situasi atau gagasan, antara laindenganpenggunaan media,
bermain peran dan demonstrasi.
2.Berilah
siswa materi pelajaran dan situasi yang memungkinkan penyelidikan (ekspolorasi)
3.Sediakan
sumber-sumber informasi dengan memanfaatkan sumber-sumber yang ada di
masyarakat.
4.Sediakan
peralatan untuk merangsang siswa melakukan eksperimen (percobaan).
5.Sediakan
waktu untuk berdiskusi, bereksperimen, mencoba-coba dan sebagainya.
6.Berilah
bimbingan dan perhargaan terhadap pemecahan yang dapat diterima dan terhadap
strategi pemecahan.
7.Berilah
dorongan dan penghargaan terhadap pemecahan yang dapat diterima dan terhadap
strategi pemecahan (Munandar, 1999 : 86).
·
Mengajukan pertanyaan yang menantang (provokatif)
Salah
satu cara untuk merangsang daya pikir kreatif adalah dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang menantang (provokatif) antara lain dengan menanyakan
apa kemungkinan-kemungkinan akibat apabila suatu kejadian yang telah terjadi,
atau dengan menanyakan suatu kejadian yang telah terjadi, atau dengan
menanyakan kemungkinan-kemungnkinan akibat dari suatu situasi yang memang belum
pernah terjadi, tetapi siswa harus membayangkan apa saja
kemungkinan-kemungnkinan akibatnya andaikan kejadian atau situasi itu terjadi
di sini.
c.Memadukan
perkembangan kognitif (berpikir), afektif (sikap) dan Psikomotorik (perasaan).
Dalam rangka membangun manusia
seutuhnya perlu ada keseimbanganaantara semua aspek perkembangan yaitu
perkembangan mental intelektual,
perkembangan social, perkembanan emosi (kehidupan perasaan) dan perkembangan
moral.
a.Ciri-ciri
kemampuan berpikir kreatif (aptitude)
1.Keterampilan berpikir lancar
2.Keterampilan berpikir luwes
3.Keterampilan berpikir orisinal
4.Keterampilan memperinci
5.Keterampilan menilai
b.Ciri-ciri
efektif (nonaptitude)
1.Rasa ingin tahu
2.Bersifat imajinatif
3.Merasa tergantung oleh kemajemukan
4.Sifat berani mengambil resiko
5.Sifat menghargai (Munandar, 1999 :
88-93).
d.Menggabung
pemikiran divergen dan pemikiran konvergen
Pemikiran
konvergen yang menuntut siswa mencari jawaban tunggal yang paling tepat
berdasarkan informasi yang diberikan sudah tidak asing bagi siswa-siswa sekolah
dasar. Pemikiran divergen atau pemikiran kreatif sebaiknya menuntut siswa
mencari sebanyak mungkin jawaban terhadap suatu persoalan.
e.Menggabung
proses berfikir dengan proses efektif
Contoh
:
·
Berfikir lancar, gabung dengan rasa ingin tahu siswa yang rasa ingi tahunya
kuat akan dapat menghasilkan gagasan-gagasan atau cara pemecahan masalah
·
Orisinalitas dalam berpikir akan paling berhasil jika siswa tidak ragu-ragu dan
berani mengamukakan pendapat yang berbeda dari biasanya dikemukakan siswa-siswa
lain.
Tehnik-tehnik
relajar kreatif dijelaskan sebagai berikut:
a)Pemikiran
dan perasaan terbuka
Cara yang paling sederhana untuk
merangsang pemikiran kreatif ialah dengan mengajukan pertanyaan yang memberikan
kesempatan timbulnya berbagai macam jawaban sebagai ungkapan pikiran dan
perasaan serta dengan membantu siswa mengajukan pertnayaan. Contoh-kegiatan
pemikiran dan perasaaan terbuka
1.Menyelesaikan sesuatu yang telah
dimulai
2.Mencari penggunaan baru dari benda
sehari-hari
3.Meningkatkan atau memperbaiki
suaut produk atau benda (Munandar, 1999 : 100-1003).
b)Sumbang
Saran
Tehnik yang dikembangkan oleh Osborn
ini dapat diterapak unutk memecahkansuaut masalah dalam kelompok kecil (Sekitas
8-10 orang) dengan “menggali” gagasan-gagasan sebanyak mungkin dari anggota
kelompok. Hal-hal yang pelru diperhatikan meliputi :
1.Kebebasan dalam memberikan gagasan
2.Penekanan pada kuantitas
3.Kritik ditangguhkan
4.Kombinsi dan peningkatan gagasan
5.Mengulangi gagasan (Munandar, 1999
: 104).
c)Daftar
pertanyaan yang memacu gagasan
Tehnik ini bertujuan melancarkan
arus pencetusan gagasan dalam pemecahan masalah seperti mengembangkan,
meningkatkan, dan memperbaiki suatu subyek atau situasi.dengan meninjau daftar
pertanyaan yang membantu melihat hubungan-hubungan baru.
d)Menyimak
sifat benda atau keadaan
Tehnik ini digunakan untuk mengubah
gagasan guna meningkatkan atau memperbaiki suatu subyek atau situasi.
Pertama-tama semua atribut (sifat) dari suatu subyek atau situasi dicatat,
kemudian masing-masing ciri ditinjau satu persatu untuk mempertimbangkan kemungkinan
mengubah atau memperbaiki obyek atau situasi tersebut.
e)Hubungan
yang dipaksakan
Tehnik lain untuk merangsang
gagasan-gagasan kreatif ialah dengan cara “memaksakan” suatu hubungan antara
objek atau situasi yangn dimasalahkan dengan unsure-unsur lain untuk
menimbulkan gagasan-gagsan baru. Maksud dari “memaksakan hubungan” ialah agar
kita dapat melepskan diri dari hubungan-hubungan yang lazim atau yang sudah
mejadi tradisi (kebiasan) untuk menjajaki kemungkinan-kemungkinan baru.
f)Pendekatan
Morfologis
Pada tehnik pendekatan atau analisis
morfologis kita berusaha memecahkan suatu masalah atau memperoleh ide-ide baru
dengan cara mengkaji dengan cermat bentuk struktur masalah. Langkah-langkahnya
adalah sebagai berikut :
1.Kita mulai dengan menentukan komponen-komponen
dasar dari masalah atau situasi
2.Dari setiapkomponen kita tetapkan
sifatnya
3.Dengan meninjau setiap kemungkinan
kombinasi, dari sifat-sifat setiap komponen kita mendapatkan gagasan baru dan kombinasi baru (Munandar, 1999 : 109).
g)Pemecahan
masalah secara kreatif
parners, Noller dan Biondi (1971)
dalam Munandar (1999:110-111) menajukan suatu model pemecahan masalah secara
kreatif (PMK) meliputi:
1.Tahap mengumpulkan fakta
2.Tahap menemukan masalah
3.Tahap menemukan gagasan
4.Tahan mnemukan jawaban
5.Tahap menemukan penerimaan
C.Mengapa
belajar kreatif itu penting
Refinger (1980 : 9-13) dalam Conny
Semawan (1990:37-38) memberikan empat alasan mengapa belajar kreatif itu
penting.
1.Belajar
kreatif membantu anak menjadi berhasil guna jika kita tidak bersama mereka.
Belajar kreatif adalah aspek penting dalam upaya kita membantu siswa agar
mereka lebihmampu menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri.
2.Belajar
kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah
yang tidak mampu kita ramalkan yang timbul di masa depan.
3.Belajar
kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehiduppan kita. Banyak
pengalamankreatif yang lebih dari pada sekedar hobi atau hiburan bagi kita.
Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan mengubah
karir dan kehidupan pribadi kita.
4.Belajar
kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.
D.Tiga
tingkat belajar kreatif (model triffinger)
Dalam pembelajaran kretaif, terdapat
teknik-teknik tertentu yang penggunaanya harus disesuaikan dengan fungsi dan
tahap pembelajaran. Metode dan teknik kreatif berikut mengacu kepada model
pembelajaran kreatif dari Treffinger (1980) . Model pembelajaran kreatif oleh
Treffinger dikelompokkan menjadi tiga tingkat. Tingkat pertama, adalah
pengembangan fungsi pemikiran divergen. Tingkat kedua, adalah pengembangan
proses pemikiran dan perasaan yang majemuk. Tingkat ketiga, adalah keterlibatan
dalam tantangan nyata.
II.Mengajar
Kreatif
Teknik
Mengajar Kreativ :
1.Teknik-teknik
kreatif tingkat pertama
Teknik pembelajaran kreatif tingkat
pertama yang menekankan pada fungsi-fungsi divergen in antara lain menggunakan
teknik pemanasaan, pemikiran dan perasaan terbuka, sumbang saran dan penangguhan
kritik, daftar penulisan gagasan, penyusunan sifat, dan hubungan yang
dipaksakan. Metode pembelajaran kreatif tingkat pertama ini mempunyai beberapa
ciri umum sebagai berikut :
·Pengakhiran
terbuka (open endedess).kegiatan-kegiatan pada tingkat ini menghendaki
ditemukanya sejumlah
kemungkinan jawaban. Bukan dikemukakanya sebuah jawaban yang benar.
·Penerimaan
banyak gagasan dan jawaban yang berbeda. Konsekuensi dari bervariasinya jawaban yang diinginkan adalah
ditemukanya jawaban-jawaban yang bervariasi, yang kadang-kadang ada yang tidak
lazim, aneh, atau luar biasa. Terhadap yang demikian itu kita harus membina dan
menghargai, sebagimana kita menghargai gagsan yang wajar.
·Gagasan-gagasan
tingkat satu meminta kita untuk menerima pandangan yang baru dan melihat
melebihi pemikiran biasa atau
pikiran
yang terikat dengan kebiasaan kita.
·Guru
mencoba bertindak sebagai kamera yang menangkap sebanyak mungkin dalam setiap
situasi.
Beberapa
teknik kreatif tingkat pertama seperti disebutkan diatas
diuraikan
sebagai berikut:
1)Pemanasan
Teknik pemanasan ini pada intinya
merupakan kegiatan prabelajar yang digunakan pada tahap awal pelajaran. Tahap
pemanasan ini mengupayakan adanya kondisi pelepasan pikiran pebelajar dengan
cara pembebasan diri dari peraturan-peraturan dan hukum-hukum berpikir yang
berlaku. Pembelajar dikondisikan untuk terbebas dari kebiasan menjawab dengan
tepat, dari batasan-batasan waktu, serta diarahkan untuk lebih banyak
menghasilkan ide. Dengan kegiatan pemanasan tersebut diharapkan pembelajar
sudah masuk pada suasana pemikiran yang siap untuk menelaah hal dan masalah
baru yang akan dipelajari pada tahapan pembelajaran
berikutnya.
2)Pemikiran
dan perasaan berahir terbuka
Teknik pemikiran dan perasaan
berahir ini pada intinya ingin mengupayakan agar pembelajar terdorong
memunculkan perilaku divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara
mengajukan pertayaan yang memungkinkan pembelajar mengungkapkan segala peraaan
dan pikiran sebagai jawaban. Adapun kegiatan pemikiran dan perasaan pengakhiran
terbuka (oopen-ended thoughtand feeling) dapat dicontohkan sebagai berikut :
·Andai
Pertanyaan ini dapat diungkapkan melalui pertanyaan tentang situasi yang tidak
benar atau sesuatu yang bertentangan dengan fakta. Contoh: andai kata pemberantasan
korupsi tidak bisa tuntas ditahun-tahun ini, apa yang bakal terjadi ditahun
2012 nanti?
·Peningkatan
suatu produk. Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui pengungkapan pemikiran
pengembangan atau peningkatan terhadap suatu kondisi yang telah ada. Contoh:
bagaimana cara memperbaiki cara belajar
yang
biasa dilakukan sekarang.
·Permulaan
yang tidak selesai. Pertanyaan ini dapat dikemukakan dengan menyajikan suatu
kondisi yang belum selesai atau belum sempurna, untuk dipikirkan kemungkinan
penyelesaian atau penyempurnaanya.Contoh: penyelesaian sebuah
kasus,cerita,desain,rancangan dan sebagainya
·Pengguna
baru dari objek-objek umum. Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian
suatu benda atau hal untuk dipikirkan fungsi lainya dilain fungsi yang lazim.
Contoh: tali sepatu, kancing baju, kumis, dan lain sebagainya.
·Alternatif
judul. Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu stimulasi untuk
dipikirkan judulnya yang tepat. Contoh: kepada pembelajar ditunjukkan naskah
sebuah cerita, dan bisa lukisan atau gambar-gambar tentang sesuatu.
·Membantu
siswa atau anak untuk mengajukan pertanyaan. Kegiatan ini dilakukan mengingat
pada biasanya siswa beranggapan bahwa gurulah yang banyak mengajukan pertanyaan
dalam konteks pembelajaran. Di sini siswa diberikan kesempatan banyak untuk
memikirkan banyak pertanyaan. Melalui strategi pemikiran dan perasan terbuka
ini diharapkan pembelajar akan
terangsang
untuk meningkatkan rasa ingin tahunya, dan menguatkan minat untuk terlibat
dalam aktivitas pembelajaran.
·Sumbang
Saran Teknik sumbang saran (brainstorming) yang dikemukakakan oleh Osborn ini
mengkondisikan agar pembelajar lebih bersikap terbuka, lebih terbuka terhadap
lingkungan, dan produktif dalam melahirkan gagasan-gagasan.
2.Teknik-teknik
kreatif tingkat Kedua
Teknik-teknik kreatif tingkat teknik kreatif
tingkat kedua ini pada intinya ingin mengupayakan agar pembelajar lebih
meluaskan pemikiranya serta melakukan peran serta dalam kegiatan-kegiatan yang
lebih majemuk dan menantang. Dalam teknik ini akan lebih terasa betapa penting
pola berpikir divergen untuk memecahkan masalah secara efektif. Secara seingkat
berikut ini akan menguraikan beberapa teknik kreatif tingkat kedua, antara
lain:
1)Teknis
analis morfologis. Teknik analis morfologis ini merupakan gabungan
teknik-teknik kreatif tingkat pertama yang telah dikemukakan, yaitu teknik
sumbang saran, teknik hubungan yang dipaksakan, dan teknik penyusunan sifat.
Teknik ini bertujuan agar pembelajar mampu mengidentifikasi ide-ide baru,
dengan cara mengkaji secara cermat bentuk dan struktur masalah. Dengan
mencermati struktur dari bagian-bagian utama dari masalah, pembelajar dapat
mengembangkan berbegai alternatif atau gagasan-gagasan dari kombinasi
unsur-unsur yang baru.
2)Teknik
bermain peran dan sosiodrama. Bermain peran dan sosiodrama merupakan teknik
pembelajaran untuk menghadapi proses pemikiran dan perasaan yang majemuk secara
efektif. Teknik ini mengupayakan agar pembelajar dapat menangani konflik,
stres, dan masalah yang timbul dari pengalaman dalam kehidupanya.
3)Synectics.
Oleh penemuan synectics ini W.j.j. Gordon (1980), teknik synectics merupakan
teknik mempertemukan bersama berbagai macam unsur dengan menggunakan kiasan
(metafor) untuk memperoleh suatu pandangan yang baru. Ada dua prinsip dasar
dalam teknik ini adalah, pertama, membuat yang asing menjadi yang lazim; dan
kedua,membuat yang lazim menjadi yang asing, keduanya melalui kiasan dan
analogi. Analogi disini dimaksudkan sebagai suatu pernyataan yang mengungkapkan
kesamaan antara hal-hal atau gagasan-gagasan atas dasar pembandingan.
3.Teknik
kreatif tingkat ketiga
Dalam tingkat ketiga ini teknik
kreatif mengupayakan keterlibatan pembelajar dalam masalah dan tantangan nyata.
Ini bermaksud agar kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna bagi para
pembelajar untuk menghadapi masalah nyata dalam kehidupanya. Pada tahap ini
pembelajar telibat langsung dalam pengajuan pertanyaan secara mandiri dan
diarahkan sendiri. Adapun teknik yang digunakan dalam tingkat ketiga ini adalah
teknik pemecahan masalah (PMK) secara kreatif. PMK ini merupakan teknik yang
sistematik dalam mengorganisasi dan mengolah keterangan dan gagasan, sehingga
masalah dapat dipahami dan dipecahkan secara imajinatif. Pemikiran yang logis,
analitik dan divergen akan terlibat keras dalam teknik ini.
Merancang suatu desain pembelajaran
yang sifatnya amat khusus bagi anak kreatif adalah tugas yang paling kompleks
dan yang paling sering diriset oleh para pakar, dan masih jauh dari pada
sempurna. Namun begitu ada beberapa petunjuk yang dapat kita peroleh dalam
merancang kegiatan ini. Dengan beranjak dari pengertian bahwa anak kreatif
terus menerus memerlukan stimulasi mental untuk mencapai perkembangan unik yang
optimal, maka Renzulli ( Clark, 1986) memaparkan tujuh langkah kunci dalam
merancang suatu desain pembelajaran, yaitu mencakup :
a.Seleksi dan latihan guru.
b.Pengembangan kurikulum
berdiferensiasi dalam berbagai bidang untuk memenuhi kebutuhan belajar dalam segi akademis dan seni.
c.Prosedur identifikasi jamak.
d.Pematokan sasaran program yang
sifatnya terdiferensiasi.
e.Orientasi staf dan peningkatan
sikap kerja sama.
f.Rencana evaluasi.
g.Peningkatan administrative.
III.Memupuk
Iklim Belajar Kreatif
A.Menerapkan
Strategi Memupuk Iklim Belajar Kreatif
Apabila memperkatakan mengenai
peranan guru dalam merangsang kreativiti pelajar timbul dua persoalan utama
yang perlu dijawab. Persoalan pertama ialah sejauh manakah benarnya kenyataan
bahawa kreativiti para pelajar sememangnya boleh dipertingkatkan dalam bilik
darjah? Persoalan kedua pula ialah mengenai bagaimanakah para guru boleh
membantu meningkatkan kreativiti pelajar
atau apakah sikap,pendekatan atau tindakan yang guru perlu tunjuk dan lakukan
untuk merangsang kemampuan kreatif pelajar?
Ada beberapa kajian ( Niu &
Sternberg 2003; Torrance 1961) yang telah dilakukan untuk menjawab persoalan
pertama yang penting itu. Niu & Sternberg (2003) telah menjalankan satu
kajian untuk menganalisa dua cara yang digunakan untuk meningkatkan kreativiti 96 orang pelajar di
sebuah Sekolah Tinggi di Beijing, China. Para pelajar ini telah diminta untuk
menghasilkan satu hasil seni yaitu kolaj. Dalam kajian ini para pelajar telah dibahagikan kepada 3 kumpulan yaitu kumpulan pertama tidak
menerima sebarang arahan supaya menjadi kreativiti apabila menghasilkan kolaj,
kumpulan kedua telah menerima arahan supaya menjadi kreatif apabila
menghasilkan kolaj dan kumpulan ketiga pula telah diajar secara terperinci
bagaimana menghasilkan kolaj yang kreatif. Kolaj yang dihasilkan oleh para pelajar tersebut
telah diadili secara subjektif dan objektif. Hasil kajian ini mendapati bahawa
para pelajar yang telah diminta menjadi kreatif telah menghasilkan kolaj yang
kreatif berbanding dengan rakan-rakan mereka yang tidak menerima sebarang arahan
supaya menjadi kreatif. Kajian juga mendapati bahawa pelajar yang diajar secara
terperinci bagaimana menghasilkan kolaj yang kreatif telah menghasilkan kolaj
yang paling kreatif. Dapatan kajian ini menunjukkan kepada kita bahawa
kreativiti pelajar boleh ditingkatkan
dalam bilik darjah melalui arahan-arahan yang disampaikan oleh guru
kepada para pelajarnya.
Di samping itu, Torrance (1961)
telah mengajar guru-guru di beberapa buah sekolah di Amerika Syarikat lima
prinsip pengajaran kreatif iaitu: (1) menghormati soalan-soalan yang
dikemukakan oleh pelajar; (2) menghormati idea-idea imaginatif yang dikeluarkan
oleh pelajar; (3) tunjukkan kepada pelajar bahwa idea-idea yang mereka
keluarkan mempunyai nilai tersendiri; (4) benarkan pelajar melakukan perkara-perkara
tertentu untuk tujuan latihan semata-mata tanpa sebarang penilaian; dan (5)
kaitkan sebarang penilaian yang guru lakukan dengan sebab dan akibat. Para guru
tersebut telah menjalankan pengajaran dengan mengikut kelima-lima prinsip ini
selama empat minggu. Satu lagi kumpulan guru yang dikawal telah menjalankan
pengajaran mereka mengikut prosedur biasa untuk tempoh yang sama. Ujian
kreativiti yang dilakukan terhadap pelajar sebelum dan sesudah kajian ini
dilakukan menunjukkan bahawa terdapat peningkatan yang mendadak terhadap
pelajar yang diajar oleh guru menggunakan lima prinsip pengajaran kreativiti
berbanding dengan pelajar yang diajar oleh guru mengikut prosedur biasa. Mereka
mendapat markah yang lebih tinggi untuk keaslian , keluwesan, kefleksibelan dan
penghuraian (Stein, 1974).
Sebagai
tambahan, Amabile (1983) mendakwa bahawa sesiapa yang memiliki kebolehan
kognitif yang biasa boleh bercita-cita untuk menghasilkan sesuatu yang kreatif
dalam bidang tertentu. Cropley (1992) pula menambah bahwa semua pelajar tanpa
mengira tahap kepintaran mereka memilikinkemampuan untuk berfikir secara
konvergen dan divergen. Pemikiran divergen adalah pemikiran yang dikaitkan
dengan kreativiti. Bagi menjawab soalan yang kedua yaitu bagaimanakah
kreativiti boleh dipertingkatkan, beberapa percobaan telah dilakukan untuk
membangunkan pelbagai pendekatan untuk meningkatkan kreativiti dalam bilik
darjah. Secara keseluruhannya pendekatan itu boleh dibahagikan kepada tiga
kategori yaitu: (a) Strategi-strategi umum yang hanya melibatkan perubahan
dalam stail pengajaran guru atau pedagogi (b) Pendekatan berstruktur yang
melibatkan penggunaan teknik-teknik khusus (c) Pendekatan penyelesaian masalah
terhadap isi mata pelajaran. Disebabkan kekangan masa dan tenaga, perbincangan ini
akan memberikan tumpuan kepada strategi-strategi umum yang hanya melibatkan
perubahan dalam stail pengajaran guru.
B.Menjelaskan
Tentang Saran - Saran dalam Memupuk Belajar Kreatif
·Menghargai
kreativitas siswa.
·Bersikap
terbuka terhadap gagasan-gagasan baru.
·Mengakui
dan menghargai adanya perbedaan individual.
·Bersikap
menerima dan menunjang anak.
·Menyediakan
pengalaman mengajar yang berdiferensisasi.
·Memberikan
struktur dalam mengajar sehingga anak tidak merasa.
·Ragu-ragu
tetapi di lain pihak cukup luwes sehingga tidak menghamabat pemikiran, sikap
dan perilaku kreatif anak.
·Setiap
anak ikut mengambil bagian dalam merencanakan pekerjaan sendiri dan pekerjaan
kelompok.
·Tidak
bersikap sebagai tokoh yang “maha mengetahui” tetapi menyadari keterbatasannya
sendiri.
No comments:
Post a Comment