Nama
Kelompok Agung Putra A 10514483
Aldio
Piliang 1c514776
Anastasya 11514015
Dian Rohmah 12514999
Hazeta
Marchya 14514863
Lintang
Kusuma A 16514097
Kristina Indrayu 15514925
Monica Valencia 16514836
Surya Muhammad J 1a514530
Kelas 2PA15
1. HUBUNGAN INTERPERSONAL
Hubungan
interpersonal adalah suatu aktivitas komunikasi dimana kita bukan hanya
sekedar menyampaikan pesan. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak
hanya menentukan isi dari pesan tersebut, tetapi kita juga memperhatikan
hubungan yang sedang terjalin.
A. Model-model Hubungan Interpersonal
Ada 4 macam hubungan interpersonal, berikut penjelasannya:
I. Model Pertukaran Sosial (Social Exchange Model)
Hubungan
interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang
berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya.
Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat
positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran
dikurangi biaya).
II. Model Peranan (Role Model)
Hubungan
interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Di sini setiap
orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat.
Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi
peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki
keterampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi
peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi
tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang
harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan
memainkan peranan tertentu.
III. Model Permainan (Games People Play Model)
Model
ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat
dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi
dalam 3 bagian yaitu:
Kepribadian orang tua
(aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari
orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional).
Kepribadian
anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak
yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan
kesenangan). Pada interaksi individu menggunakan salah satu kepribadian
tersebut sedang yang lain membalasnya dengan menampilkan salah satu dari
kepribadian tersebut. Sebagai contoh seorang suami yang sakit dan ingin
minta perhatian pada istri (kepribadian anak), kemudian istri menyadari
rasa sakit suami dan merawatnya (kepribadian orang tua).
Model Interaksional (Interactsional Model)
Model
ini memandang hubungann interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap
sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat
model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.
B. Memulai Hubungan
Tahap-tahap dalam hubungan interpersonal, berikut penjelasannya.
I. Pembentukan
Tahap
ini sering disebut juga dengan tahap perkenalan. Beberapa peneliti
telah menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama,
“fase kontak yang permulaan”, ditandai oleh usaha kedua belah pihak
untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya. Masing-masing pihak
berusaha menggali secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain.
Bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses
mengungkapkan diri. Pada tahap ini informasi yang dicari meliputi data
demografis, usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga dan
sebagainya.
II. Peneguhan Hubungan
Hubungan
interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk
memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, diperlukan
tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan. Ada empat
faktor penting dalam memelihara keseimbangan ini, yaitu:
– Keakraban (pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang antara komunikan dan komunikator).
–
Kontrol (kesepakatan antara kedua belah pihak yang melakukan
komunikasi dan menentukan siapakah yang lebih dominan didalam komunikasi
tersebut).
– Respon yang tepat (feedback atau
umpan balik yang akan terima jangan sampai komunikator salah memberikan
informasi sehingga komunikan tidak mampu memberikan feedback yang
tepat).
– Nada emosional yang tepat (keserasian suasana emosi saat komunikasi sedang berlangsung).
C. Hubungan Peran
Dalam
suatu hubungan juga perlu adanya companionate love, passionate love dan
intimacy love. Karena apabila kurang salah satu saja di dalam suatu
hubungan atau mungkin hanya salah satu di antara ketiganya itu di dalam
suatu hubungan maka yang akan terjadi adalah hubungan tersebut tidak
akan berjalan dengan langgeng atau awet, justru sebaliknya setiap
pasangan tidak merasakan kenyamanan dari pasangannya tersebut sehingga
yang terjadi adalah hubungan tersebut bubar dan tidak akan ada lagi
harapan untuk membangun hubungan yang harmonis dan langgeng.
D. Intimasi dan Hubungan Pribadi.
Sebagai
konsekuensi adanya daya tarik menyebabkan interaksi sosial antar
individu menjadi spesifik atau terjalin hubungan intim. Orang-orang
tertentu menjadi istimewa buat kita, sedangkan orang lain tidak.
Orang-orang tertentu menjadi sangat dekat dengan kita, dibandingkan
orang lain. Adapun bentik intim terdiri dari persaudaraan, persahabatan,
dan percintaan. Leb h jauh mengenai bentuk-bentuk hubungan intim
tersebut daoat dijelaskan pada bagian berikut :
I. Persaudaraan
Hubungan
intik ini didasarkan pada hubungan darah. Hunungan intim interpersonal
dalam persaudaraan terdapat hubungan inti ssperti dalam keluarga kecil.
Pada persaudaraan itu didlamnya terkandung proximitas dan keakraban.
II. Persahabatan
Persahabatan
biasanya terjadi pada dua individu yang didasarkan pada banyak
persamaan. Utamanya persamaan usia. Hubungan dalam persahabatan tidak
hanya sekedar teman, lebih dari itu diantara mereka terjalin interaksi
yang sangat tinggi sehingga mempunyai kedekatan psikologis. Indikasi
atau tanda-tanda bila dalam hubungan interpersonal terjadi persahabatan
yaitu : sering bertemu, merasa bebas membuka diri, bebasmenyatakan
emosi, dan saling tergantung diantara mereka.
III. Percintaan
Persabatan
antar pria dan wanita bisa berubah mejadi cinta, jika dua individu itu
merasa sebagai pasangan yang potensial seksual. Dalam suatu
persahabatan, dapat melahirkan satu proses yang namanya jatuh cinta. Hal
ini terjadi karena ada dua perbedaan mendasar antara persahabatan dan
cinta.
E. Intimasi dan Pertumbuhan
Apapun
alasan untuk berpacaran, untuk bertumbuh dalam keintiman, yang terutama
adalah cinta. Keintiman tidak akan bertumbuh jika tidak ada cinta .
Keintiman berarti proses menyatakan siapa kita sesungguhnya kepada orang
lain. Keintiman adalah kebebasan menjadi diri sendiri. Keintiman
berarti proses membuka topeng kita kepada pasangan kita. Bagaikan
menguliti lapisan demi lapisan bawang, kita pun menunjukkan lapisan demi
lapisan kehidupan kita secara utuh kepada pasangan kita.
Keinginan
setiap pasangan adalah menjadi intim. Kita ingin diterima, dihargai,
dihormati, dianggap berharga oleh pasangan kita. Kita menginginkan
hubungan kita menjadi tempat ternyaman bagi kita ketika kita berbeban.
Tempat dimana belas kasihan dan dukungan ada didalamnya. Namun, respon
alami kita adalah penolakan untuk bisa terbuka terhadap pasangan kita.
Hal ini dapat disebabkan karena :
1) kita tidak mengenal dan tidak menerima siapa diri kita secara utuh.
2) kita tidak menyadari bahwa hubungan pacaran adalah persiapan memasuki pernikahan.
3) kita tidak percaya pasangan kita sebagai orang yang dapat dipercaya untuk memegang rahasia.
4) kita dibentuk menjadi orang yang berkepribadian tertutup.
5) kita memulai pacaran bukan dengan cinta yang tulus .
2. CINTA DAN PERKAWINAN
A. Memilih Pasangan
Banyak
orang yang pikirannya terlalu pendek dalam hal memilih pasangan
sehingga gagal dalam pernikahannya. Prinsipnya adalah jika hanya
berpedoman pada hal-hal yang sifatnya duniawi (kecantikan atau
ketampanan dan kekayaan) maka akan sangat sulit dalam menjalani
hari-hari berumah tangga nantinya. Karena semua itu hanya bersifat
sementara dan sangat mudah berubah. Jika jatuh cinta hanya karena
melihat dari segi kecantikan atau ketampanan dan kekayaan, maka cinta
tersebut akan sangat mudah berkurang bahkan hilang. Jika memang cinta
pada seseorang maka lahirlah ketampanan atau kecantikan, bukan
sebaliknya. Masalah fisik, banyak yang berkata bahwa wanita cantik hanya
pantas untuk laki-laki tampan, begitu pula sebaliknya. Dan apa yang
terjadi ketika teman kita yang mungkin tak begitu cantik mendapatkan
suami yang tampan dan juga kaya, maka kita biasanya akan protes. Kita
merasa bahwa dirinya tak pantas dan kitalah yang lebih pantas. Dalam
memilih pasangan hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan keduanya
memiliki hak untuk memilih yang paling tepat sebagai pasangannya. Maka
dari itu harus benar-benar diperhitungkan ketika memilih pasangan yang
baik.
B. Hubungan dalam Perkawinan
I. Romantic Love
Saat
ini adalah saat Anda dan pasangan merasakan gelora cinta yang
menggebu-gebu. Ini terjadi di saat bulan madu pernikahan. Anda dan
pasangan pada tahap ini selalu melakukan kegiatan bersama-sama dalam
situasi romantis dan penuh cinta.
II. Dissapointment or Distress
Di
tahap ini pasangan suami istri kerap saling menyalahkan, memiliki rasa
marah dan kecewa pada pasangan, berusaha menang atau lebih benar dari
pasangannya. Terkadang salah satu dari pasangan yang mengalami hal ini
berusaha untuk mengalihkan perasaan stres yang memuncak dengan menjalin
hubungan dengan orang lain, mencurahkan perhatian ke pekerjaan, anak
atau hal lain sepanjang sesuai dengan minat dan kebutuhan masing-masing.
Menurut Dawn tahapan ini bisa membawa pasangan suami-istri ke situasi
yang tak tertahankan lagi terhadap hubungan dengan pasangannya. Banyak
pasangan di tahap ini memilih berpisah dengan pasangannya.
III. Knowledge and Awareness
Pasangan
suami istri yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana
posisi dan diri pasangannya. Pasangan ini juga sibuk menggali informasi
tentang bagaimana kebahagiaan pernikahan itu terjadi. Pasangan yang
sampai di tahap ini biasanya senang untuk meminta kiat-kiat kebahagiaan
rumah tangga kepada pasangan lain yang lebih tua atau mengikuti
seminar-seminar dan konsultasi perkawinan.
IV. Transformation
Suami
istri di tahap ini akan mencoba tingkah laku yang berkenan di hati
pasangannya. Anda akan membuktikan untuk menjadi pasangan yang tepat
bagi pasangan Anda. Dalam tahap ini sudah berkembang sebuah pemahaman
yang menyeluruh antara Anda dan pasangan dalam mensikapi perbedaan yang
terjadi. Saat itu, Anda dan pasangan akan saling menunjukkan
penghargaan, empati dan ketulusan untuk mengembangkan kehidupan
perkawinan yang nyaman dan tentram.
V. Real Love
“Anda
berdua akan kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman,
kebahagiaan, dan kebersamaan dengan pasangan,” ujar Dawn. Psikoterapis
ini menjelaskan pula bahwa waktu yang dimiliki oleh pasangan suami istri
seolah digunakan untuk saling memberikan perhatian satu sama lain.
Suami dan istri semakin menghayati cinta kasih pasangannya sebagai
realitas yang menetap. “Real love sangatlah mungkin untuk Anda dan
pasangan jika Anda berdua memiliki keinginan untuk mewujudkannya. Real
love tidak bisa terjadi dengan sendirinya tanpa adanya usaha Anda
berdua,” ingat Dawn.
C. Penyesuaian dan Pertumbuhan dalam Perkawinan
Perkawinan
tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus
dapat mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam
perkawinan tidak diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan
merupakan salah satu tahapan dalam hidup yang pasti diwarnai oleh
perubahan. Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah perkawinan, sering
tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan banyak terkait
dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan serta terbentuknya
hubungan antarkeluarga kedua pihak. Relasi yang diharapkan dalam sebuah
perkawinan tentu saja relasi yang erat dan hangat. Tapi karena adanya
perbedaan kebiasaan atau persepsi antara suami-istri, selalu ada hal-hal
yang dapat menimbulkan konflik. Dalam kondisi perkawinan seperti ini,
tentu sulit mendapatkan sebuah keluarga yang harmonis.
D. Perceraian dan Pernikahan Kembali
Pernikahan
bukanlah akhir kisah indah bak dongeng cinderella, namun dalam
perjalanannya, pernikahan justru banyak menemui masalah. Menikah Kembali
setelah perceraian mungkin menjadi keputusan yang membingungkan untuk
diambil. Karena orang akan mencoba untuk menghindari semua kesalahan
yang terjadi dalam perkawinan sebelumnya dan mereka tidak yakin mereka
bisa memperbaiki masalah yang dialami. Mereka biasanya kurang percaya
dalam diri mereka untuk memimpin pernikahan yang berhasil karena
kegagalan lama menghantui mereka dan membuat mereka ragu-ragu untuk
mengambil keputusan. Sebagai manusia, kita memang mempunyai daya tarik
atau daya ketertarikan yang tinggi terhadap hal-hal yang baru. Jadi,
semua hal yang telah kita miliki dan nikmati untuk suatu periode
tertentu akan kehilangan daya tariknya. Misalnya, Anda mencintai pria
yang sekarang menjadi pasangan karena kegantengan, kelembutan dan
tanggung jawabnya. Lama-kelamaan, semua itu berubah menjadi sesuatu yang
biasa. Itu adalah kodrat manusia. Sesuatu yang baru cenderung mempunyai
daya tarik yang lebih kuat dan kalau sudah terbiasa daya tarik itu akan
mulai menghilang pula. Esensi dalam pernikahan adalah menyatukan dua
manusia yang berbeda latar belakang. Untuk itu kesamaan pandangan dalam
kehidupan lebih penting untuk diusahakan bersama. Jika ingin sukses
dalam pernikahan baru, perlu menyadari tentang beberapa hal tertentu,
jangan biarkan kegagalan masa lalu mengecilkan hati, menikah Kembali
setelah perceraian bisa menjadi kan pengalaman, tinggalkan masa lalu dan
berharap untuk masa depan yang lebih baik lagi dari pernikahan
sebelumnya.
E. Alternatif selain Pernikahan
Hidup
di dalam kesendirian memang tidak mudah untuk dijalani. Namun ini
adalah suatu pilihan yang diambil di kala orang sudah putus asa untuk
membina suatu hubungan perkawinan. Misalnya seorang wanita yang sudah
lebih dari satu kali menikah dan gagal. Akhirnya ia memutuskan untuk
tidak bersuami dan mengurus anak – anaknya sendiri. Ia merasa mampu
karena ia pun seorang wanita karir yang memiliki penghasilan yang cukup.
Namun meskipun demikian, seseorang yang menjalani single life pasti
mengalami loneliness atau rasa kesepian. Terlebih ketika ia sudah lanjut
usia dan anak – anaknya sudah berkeluarga.
Referensi:
Hubungan Interpersonal http://shafashan15.blogspot. com/2012/04/hubungan- interpersonal.html
No comments:
Post a Comment